I am A Hero (2013/ongoing): Komikus Bermasalah di Tengah Bencana Zombie

Semenjak terbit komik Resident Evil dalam bahasa Indonesia, saya jadi tertarik untuk mengikuti dunia komik lagi, dunia yang sempat saya tinggalkan sekitar 15 tahun. Tentu, tema yang ingin saya ikuti tetaplah tema misteri, thriller, horror, sakit jiwa, dan boleh juga kekerasan.

Setelah Monster, saya mencari-cari beberapa komik semacam itu. Ternyata cukup sulit menemukan komik yang pas. Ada beberapa juga, namun sudah tidak terbit lagi, atau penerbitnya bajakan yang tentu saja mencari komiknya memerlukan perjuangan tersendiri.

Suatu ketika, waktu saya cari buku non komik di Gramedia, lirikan mata saya menangkap sebuah komik dengan tagline “Pemenang Shogakukan Award ke-58”. Dengan tagline tersebut, gambar tangan hitam meraih ke atas dan tulisan I am a Hero 3, komik ini menarik perhatian saya. Sekilas saya baca ringkasan di kover belakangnya. Hm, tampaknya menarik. Apalagi penerbitnya adalah Level, dan kategorinya Dewasa. Tampaknya komik ini layak dicobalah. Tanpa survei, saya borong volume 1 sampai volume 3 nya sekalian. Pikir saya, jika tidak cocok, bolehlah suatu saat berhenti membelinya.

I am A Hero. Bencana Zombie di Jepang

I am A Hero. Bencana Zombie di Jepang

Setelah membaca volume 1 sampai 3, ternyata komik ini –bagi saya- menarik banget. Dan tentu saja saya lalu kecanduan untuk membelinya lagi sampai volume yang ke 9 –yang baru saja terbit saat ini ditulis. Setelah membaca sekian volume, tampaknya inilah saatnya saya mulai mengulas komik ini. Siapa tahu ulasan saya berguna bagi orang lain.

Saat melihat kover-kovernya dan membaca ringkasan di belakangnya untuk pertama kali, saya sendiri belum merasa jelas komik ini tentang apa –sepertinya tentang seseorang yang panik karena orang-orang yang ia kenal mendadak berubah. Okelah.

Di awal volume 1, komik ini belum jelas mengungkapkan tentang apa. Tokoh utamanya adalah Hideo Suzuki, seorang editor komik yang ingin menerbitkan serial komiknya sendiri namun belum juga berhasil. Di halaman-halaman awal, tampak bahwa ia mempunyai adik imajiner yang sering ia ajak bicara. Si tokoh utama ini juga melihat penampakan-penampakan semacam hantu di apartemennya. Hm, bertema psikologi thriller kah, atau supranatural? Ternyata baca ulasan di internet sana-sini, banyak juga pembaca yang bertanya-tanya komik ini tentang apa.

Baru menjelang akhir volume 1, mulailah tampak tema yang diangkat. Dari percakapan masyarakat yang menjadi latar belakang, pembaca (seharusnya) tahu bahwa ada wabah flu baru. Metode pelan dalam mengemukakan tema ini menarik. Tema utama jadi tidak melulu harus dikemukakan oleh tokoh utama atau tokoh pembantu. Sekadar didapat dari percakapan dan gambar latar belakang.

Tema ini mulai tampak nyata pada akhir volume 1. Hideo yang ternyata tergabung dalam klub menembak, para hari Minggu berniat untuk berlatih menembak bersama klubnya. Karena pada malamnya, Tekko, kekasihnya, tidak menjawab teleponnya, Hideo pun mampir ke apartemen Tekko. Ternyata Tekko sudah berubah menjadi sosok yang mengerikan. Dan, Tekko pun menyerang Hideo. Sudah jelas sekarang. Tema komik ini adalah zombie. Saya hanya berharap semoga tidak membosankan, dan tidak mengkopi dari yang sudah-sudah.

Akhirnya, Hideo terpaksa membunuh Tekko, kekasihnya sendiri yang selama ini ia perjuangkan. Dengan matinya Tekko, hilang pula adik imajiner Hideo. Entah hubungannya apa. Menurut saya, adik imajiner ini hanya dimunculkan di Volume 1 untuk membuat penasaran pembaca saja, dan segera harus dimusnahkan pada volume 2. Mengapa harus dimunculkan jika akan dihilangkan begitu cepat? Sebuah pemborosan karakter.

Ngeri terhadap kejadian ini, Hideo malah mampir dulu ke studio kerjanya. Ternyata teman-teman kerjanya pun sudah berubah. Tinggal Pak Mitani. Berdua dengan Mitani, Hideo melarikan diri dari kota yang telah kacau karena warga yang jadi zombie. Malang, Mitani tetap mati tersenggol roda pesawat terbang.

Hideo memutuskan untuk melarikan diri ke kaki Gunung Fuji yang ia sangka tak terjamah wabah ini. Betulkah daerah pegunungan tetap aman?

Tiga volume pertama yang saya baca ini sangat menarik.

Laju serial komik ini memang lambat. Tentu, mulanya adalah untuk mengokohkan karakter-karakternya. Selain itu, saya pikir laju yang lambat ini malah cocok untuk menambah ketegangan. Jadi, walaupun temanya zombie, karena lajunya yang lambat, komik ini malah lebih berasa ke thriller psikologi. Coba bedakan saja dengan komik Resident Evil dari m&c yang sama-sama bertema zombie, namun yang terakhir rasanya lebih ke aksi. Sebagai veteran gamer survival horror pada masa kejayaannya di akhir 1990an dan awal 2000an, saya malah cocok dengan laju lambat I am A Hero ini.

Satu hal yang paling menarik bagi saya adalah karakter tokoh utamanya, Hideo Suzuki. Ia adalah seorang editor komik berusia 35 tahun yang ingin sukses dengan serial komiknya sendiri namun tak kunjung juga berhasil. Selain karirnya yang tak sukses, hubungannya dengan Tekko pun juga serasa di ambang jurang. Ini karena Tekko pernah juga menjadi pacar komikus lain yang sudah sukses daripada Hideo. Kemalangannya ditambah lagi dengan rasa tidak percaya dirinya yang sangat menonjol. Ia juga sangat takut dengan kesendirian dan gelap. Ia merasa menjadi orang yang paling sial di dunia ini, paling tidak sukses. Ia merasa frustasi dengan keadaannya itu.

Hideo Suzuki: Pahlawan kita yang tidak percaya diri

Hideo Suzuki: Pahlawan kita yang tidak percaya diri

Penggambaran karakter Hideo yang seperti ini tersaji dengan baik dan terjaga sampai volume 9 –volume terakhir yang saya baca. Misalnya, saat bertemu dengan gadis SMA pun, ia tak berani menatap mata si gadis. Hideo pun tak mau mengambil keputusan jika ia diminta memutuskan sesuatu. Ia tidak mau bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusan. Bahkan ketika ia dianggap mampu oleh teman-temannya pun, ia sendiri masih ragu terhadap kemampuannya.

Sebagai seorang yang berumur setara dengan si tokoh utama, saya sangat memahami perasaan frustasi Hideo. Di ambang usia kepala 4, hidupnya belum jelas; belum menikah dan karirnya belum mapan. Sedikit demi sedikit, Kengo Hanazawa, pengarangnya, mengungkap penyebab karakter Hideo yang seperti ini. Pada waktu kecil, orang tuanya serba melarang Hideo. Bisa jadi ini (salah satu) pesan moral yang ingin diungkapkan Kengo.

Karakter Hideo yang seperti ini sangatlah berbeda dengan Chris Redfield atau Leon Kennedy yang serba terampil dan percaya diri dalam Resident Evil. Berbeda juga dengan Rick Grimes dalam The Walking Dead –sebenarnya saya baru menonton serialnya. Karakter Hideo mirip dengan karakter tokoh utama dalam game Silent Hill: orang biasa. Hanya saja, saya lebih tertarik ke Hideo. Dalam Silent Hill, tokoh utama yang orang biasa tiba-tiba saja bisa menggunakan shotgun dan senapan pemburu. Dalam I am A Hero, ternyata Hideo adalah anggota klub menembak dan mempunyai senapan berlisensi. Tampaknya hal ini memang disengaja oleh Kengo untuk menghindari kritik sebagaimana yang pernah menimpa tokoh-tokoh utama game Silent Hill.

Yang saya suka dari serial ini adalah kemampuannya menjaga perimbangan antara aksi membantai zombie dengan ketegangan psikologisnya. Beberapa media populer tentang zombie cenderung lalu terjebak pada aksi membantai zombie semata –sebagaimana terjadi pada game Resident Evil. I am A Hero tidak seperti ini –paling enggak sampai volume 9 yang saya baca. Misalnya saja, di volume 8, ada adegan aksi membantai para zombie di jembatan dekat outlet mall (bandingkan dengan game Resident Evil 4). Namun di volume 9, kita dapati lagi ketegangan psikologis Hideo menghadapi zombie ibu dan bayinya di toko oleh-oleh yang tidak memungkinkan pergerakan bebas (bandingkan dengan game Resident Evil 2).

Dengan karakter bermasalah yang kuat, laju yang lambat namun pasti, dan ketegangan yang silih berganti dari aksi dan teror, saya angkat topi terhadap serial ini dan memutuskan untuk meneruskan membeli volume berikutnya.

Bagaimana dengan art-nya? Jangan harap menemukan goresan manga klasik seperti di Saint Seiya atau Kungfu Boy. Kengo Hanazawa memakai aliran realisme. Kita menjumpai wajah orang Jepang yang mirip sebagaimana aslinya. Memang ada yang bermata lebar, namun tidak ekstrim seperti di manga-manga lainnya. Selain penggambaran manusia yang beraliran realisme, Kengo juga berhasil dengan apik menggambarkan kota, pegunungan, dan daerah keramaian. Gambarnya detil dan indah. Beberapa tampaknya memang berasal dari foto yang kemudian digores ulang.

Tingkat menjijikkan dan kekerasan gambar komik ini agak di atas rata-rata. Zombie digambarkan dengan urat-urat yang tampak di kulit, mata yang cekung, perilaku tak wajar (memakan gelas misalnya), dan cara berjalan yang aneh –dengan tangan dan kaki. Hal baru yang belum pernah saya jumpai pada media pop tentang zombie adalah adanya bayi-bayi yang menjadi zombie. Ini sebuah gebrakan baru. Dan juga mengalirnya darah dari daerah kelamin para zombie yang sering kali digambar close up. Selain itu ya standar: orang dimakan, kepala pecah, isi perut berhamburan.

Zombie dengan kepala tidak utuh? Sangat biasa muncul di komik ini

Zombie dengan kepala tidak utuh? Sangat biasa muncul di komik ini

Ingat, komik ini memang untuk pembaca yang benar-benar dewasa. Selain karena tingkat kekerasan yang menjijikkan di atas, komik ini juga mengemukakan perselingkuhan, gonta-ganti pasangan bersanggama, dan bersanggama model three some. Tentu tidak digambarkan secara eksplisit, namun bisa diketahui dari percakapan tokoh-tokohnya.

Walaupun saya suka dengan serial ini, ada beberapa hal yang saya merasa tidak cocok. Misalnya, beberapa kali tampil gambar dan atau balon dialog yang menggambarkan para korban yang masih mencoba menenangkan zombie yang menyerangnya, misalnya “Ngapain sih gigit-gigit”, “Bapak, jangan menggigitku,” Bagi saya, jika ada anggota keluarga saya yang menggigit saya, saya sudah merasa aneh; apalagi dengan wajah yang berbeda dan urat yang tampak di permukaan kulit. Tdiak logis. Kenapa tidak langsung (tendang dan) lari saja?

Selain itu, saya merasa serial komik ini agak mirip-mirip dengan serial (televisi) The Walking Dead. Misalnya saja pada bagian komunitas di atap outlet mall. Menurut saya, bagian ini agak mirip dengan kota yang dibangun The Governor di The Walking Dead. Enggak persis 100 % sih. Tapi tetap ada atmosfir kemiripan.

Terlepas dari hal-hal yang saya tidak cocok itu, saya tetap suka serial ini. Anda yang suka dengan dunia apokaliptik zombi kemungkinan besar akan suka dengan serial ini. Saya juga merekomendasikan serial ini kepada penggemar The Walking Dead, dan silakan membandingkannya dengan The Walking Dead. Saya sendiri belum sempat membaca komiknya, baru sempat menonton serialnya. Semoga komik ini tetap menarik sampai di volume terakhirnya.

Judul: I am A Hero
Jumlah volume: 9 (ongoing), di Jepang sudah 14
Genre: Horror, Thriller
Pengarang (Cerita dan Gambar):  Kengo Hanazawa
Penerbit: Level Comics (Indonesia), Shogakukan (Jepang)
Tahun Terbit: 2013 (Indonesia) 2009 (Jepang)
Penghargaan: Shogakukan Manga Award ke-58

Advertisements