Spec Ops: The Line(2012): Beranikah Anda Memainkannya?

Setelah memainkan Max Payne 3, saya merasa inilah game third person shooter terbaik yang pernah saya mainkan. Ceritanya bagus dan tak terduga, semacam ada twistnya begitu. Mekanik gameplaynya juga bagus, terutama shootdodge dan bullet timenya. Apakah memang benar Max Payne 3 adalah TPS terbaik –minimal untuk tahun 2012? Ternyata beberapa kritikus game berpendapat lain. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa juara third person shooter untuk tahun 2012 bukanlah Max Payne 3, tapi Spec Ops: The Line. Game apakah ini?

Spec Ops: The Line, third person shooter biasa dengan cerita yang luar biasa

Spec Ops: The Line, third person shooter biasa dengan cerita yang luar biasa

Spec Ops: The Line merupakan third person shooter dengan atmosfir militer. Sebenarnya, game ini merupakan kelanjutan franchise Spec Ops yang sudah berjalan lama, yaitu sejak tahun 1998. Spec Ops: The Line merupakan game kesebelas –dan paling baru- dari franchise ini. Game tembak-tembakan ala militer ini dikembangkan oleh Yager dan diterbitkan oleh 2K Games.

Saya langsung ingin mencoba game ini. Namun setelah baca sana-sini, saya dapat kabar bahwasanya game ini dilarang beredar di Uni Emirat Arab. Saya sempat curiga, apakah game ini mengusung rasis atau melecehkan agama tertentu? Ternyata tidak –paling tidak sepengetahuan saya –dan sepermainan saya setelah saya memainkannya. Uni Emirat Arab melarang game ini karena di game ini Dubai digambarkan porak-poranda setelah dihantam badai pasir yang amat hebat. Okelah, karena alasan pelarangan (hanya) seperti ini, saya memutuskan untuk memainkannya.

Spec Ops: The Line bercerita tentang misi penyelidikan terhadap sepasukan tentara Amerika Serikat yang diduga desersi setelah Dubai dilanda serangkaian badai pasir yang hebat. Enam bulan sebelum waktu dalam game, serangkaian badai pasir hebat melanda Dubai. Pejabat Dubai dan orang-orang kaya sebelumnya telah melarikan diri secara diam-diam, meninggalkan warga biasa dan pekerja asing. Kolonel John Konrad, pemimpin batalion infanteri Damned 33rd dari Angkatan Darat Amerika Serikat sedang pulang dari Afghanistan ketika badai pasir itu menyerang Dubai. Konrad dan Damned 33rd menjadi sukarelawan untuk menolong usaha penyelamatan di Dubai. Namun, setelah itu mereka melakukan desersi saat diperintahkan untuk meninggalkan Dubai dan pengungsinya.

Badai pun makin menjadi, mengganggu pandangan, komunikasi, transportasi udara. Yang tertinggal hanyalah sinyal radio paling kuat. Batalyon 33 menetapkan hukum militer di tengah badai, kerusuhan, dan sumber daya yang semakin menipis. Komunikasi terakhir dari Dubai menyatakan bahwa batalyon 33 berusaha memimpin rombongan untuk keluar dari kota. Rombongan tersebut tak pernah sampai. Segera setelah itu UAE mendeklarasikan Dubai sebagai tanah tak bertuan. Segala perjalanan ke Dubai dilarang, batalyon 33 dinyatakan sebagai pengkhianat, dan tidak ada berita selanjutnya dari Dubai.

Dua minggu sebelum waktu dalam game, sebuah sinyal radio tertangkap. Isinya pesan singkat, “Di sini Kolonel John Konrad, Tentara Amerika Serikat. Percobaan evakuasi dari Dubai gagal total. Korban jiwa terlalu banyak.” Militer AS memutuskan untuk mengirimkan tiga anggota Delta Force dalam misi rahasia untuk mengetahui keadaan di Dubai. Mereka adalah Kapten Martin Walker, Letnan Alphonse Adams, dan Sersan John Lugo. Mereka diminta untuk mengkonfirmasi status Konrad dan siapa pun yang selamat, lalu meminta ekstraksi.

Game dimulai dengan adegan kejar-kejaran memakai helikopter. Helikopter yang ditumpangi Walker, Adams, dan Lugo terbang di atas Dubai yang porak poranda. Beberapa helikopter mengejar mereka. Walker menembaki helikopter-helikopter tersebut. Tiba-tiba, badai pasir menghantam helikopter mereka dan jatuh di padang pasir.
Kisah beralih ke awal cerita. Walker, Adams, dan Lugo melintasi Dubai yang hampir terkubur pasir dengan berjalan kaki. Mereka bertemu dengan kelompok bersenjata yang berbicara dengan bahasa Farsi, mengaku sebagai pemberontak yang telah menangkan seorang tentara batalyon 33. Bertentangan dengan perintah yang ia terima, Walker memutuskan untuk mengikuti grup pemberontak dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi di kota ini. Selama perjalanan, mereka mendengar siaran radio dari batalyon 33.

Setelah beberapa saat, mereka menemukan bukti apa yang terjadi di Dubai bulan sebelumnya. Setelah gagalnya evakuasi, batalyon 33 kembali ke Dubai sebagai penguasa dan melakukan tindak kekerasan terhadap masyarakat sipil dengan alasan pemeliharaan keamanan. Marah karena hal ini, sebagian batalyon 33 balik melawan Konrad sebagai protes, dan memisahkan diri. CIA mengorganisir pemberontak untuk melawan baik batalyon 33 yang masih setia pada Konrad maupun yang tidak dengan alasan yang masih belum diketahui. Walaupun sudah jelas tujuan Konrad, namun karena ia pernah menyelamatkan nyawa Walker di Kabul, Walker cenderung percaya kepada Konrad.

Mereka bertiga mencoba mengintervensi secara damai ketika mereka bertemu dengan pengungsi yang dikepung oleh batalyon 33 yang masih loyal. Namun, tentara 33 mengira mereka sebagai CIA dan menyerang mereka. Mereka pun terpaksa melawan hingga membunuh beberapa anggota 33 -sesuatu yang sebenarnya tidak mereka inginkan. Sementara batalyon 33 mundur dengan membawa tahanan sipil, Walker memaksa untuk terus menyelidiki dengan harapan bisa mengevakuasi mereka yang selamat dan menemukan Konrad.

Atas petunjuk Gould, seorang agen CIA, mereka bertiga mencapai lokasi yang dijuluki The Gate untuk menemukan informasi yang lebih detil. Ternyata The Gate dijaga ketat oleh batalyon 33. Walker memutuskan untuk menggunakan mortar beramunisi fosfor putih untuk menyerang batalyon 33, walaupun Lugo tidak setuju. Setelah api mereda, mereka bertiga harus berhadapan dengan kengerian yang mereka ciptakan sendiri. Batalyon 33 ternyata mengumpankan masyrakat sipil untuk tameng mereka menghadapi kontak senjata yang akan datang. Empat puluh tujuh warga sipil terbakar oleh peluru fosfor putih. Walker memutuskan untuk membalas dendam ke batalyon 33, karena ia merasa mereka telah memaksanya menggunakan fosfor putih.

Insiden Fosfor Putih

Insiden Fosfor Putih

Mereka lalu menemukan pasukan Konrad sebelumnya yang telah dieksekusi. Walker menemukan sebuah radio komunikasi kecil. Dengan radio itu, Konrad mulai berkomunikasi dengannya dan mulai menanyakan moralitas tindakan Walker. Segera setelah itu Konrad memaksa Walker untuk memilih untuk mengeksekusi seorang warga sipil yang mencuri air datau seorang tentara 33 yang membunuh keluarga warga sipil pencuri air tersebut dalam usaha menangkapnya. Dan sebenarnya pemainlah yang harus memilih untuk menembak salah satu dari mereka. Lugo dan Adam mulai semakin terbuka meragukan dan mengkhawatirkan tindakan WAlker. Setelahnya, mereka bertemu dengan agen CIA, Riggs, yang memimpin penyerangan ke Underwater Aquatic Coloseum, tadah air terakhir di Dubai. Riggs memberitahu tim Delta bahwa jika pemberontak menguasai air, maka 33 akan kalah. Namun usaha tim Delta mengawal Riggs membawa truk air gagal. Walker diberitahu Riggs bahwa CIA ingin membantai siapa saja yang tersisa di Dubai sehingga tak ada seorang pun yang tahu tentang aksi batalyon 33. CIA ingin melakukan hal ini karena khawatir tindakan 33 akan memicu seluruh Timur Tengah melawan AS. Sekali lagi, pemain dihadapkan oleh pilihan: membiarkan Riggs mati terbakar di bawah jepitan truk tangki air atau menembak Riggs untuk mengakhiri penderitaannya.

Dua pilhan yang sama-sama tidak mengenakkan.

Dua pilhan yang sama-sama tidak mengenakkan.

Seluruh kota akan mengalami dehidrasi dalam 4 hari. Untuk mencegah hal ini dan memulai evakuasi, tim Delta, yang sekarang telah semakin gelap mata, menuju Trans Emirates Building untuk merebut radio dan mengumumkan evakuasi. Penyiar radio menyerah dan ditembak mati oleh Lugo. Sebelum tim Delta mengumumkan evakuasi, 33 datang dan memaksa mereka untuk meninggalkan gedung. Tim Delta melarikan diri dengan helikopter, menghancurkan gedung agar Konrad tahu maksud mereka. Helikopter lain mengejar mereka. Adegan kembali ke awal game, yang dirasakan oleh Walker sebagai déjà vu dan halusinasi. Adegan kembali saat helikopter mereka terkena badai pasir dan jatuh di padang pasir.

Walker terbangun dan mencoba bersatu dengan anggota tim Delta lainnya. Cerita berlanjut. Dan sebelum saya bocorkan akhirnya, saya ulas dulu.

Secara mekanis permainan, game ini merupakan third person shooter standar. Yang saya sukai di sini hanyalah mekanisme berlindung atau taking cover yang sekarang juga sudah jadi mekanis biasa di game-game serupa. Tidak ada mekanis unggulan sebagaimana bullet time atau shoot dodge di Max Payne 3. Upgrade senjata pun tidak ada. Hanya ada collectibles yang di game-game lain juga selalu ada. Jadi, secara mekanis permainan, game ini tidak ada yang dapat diunggulkan.

Sesuatu yang mungkin lain adalah terdapatnya skenario di mana kita harus memutuskan secara cepat di antara dua pilihan –yang ironisnya dengan akhir yang sama-sama tidak kita inginkan. Pertama, yaitu saat pemain berhadapan dengan tentara 33 yang ditangkap pemberontak: akankah kita menembaknya atau membiarkannya lari. Kedua, saat bertemu dengan tentara 33 yang akan mengeksesuki warga sipil, akankah kita tembak eksekutornya atau kita biarkan saja mereka. Ketiga, saat kita disuruh Konrad memilih mengeksekusi warga sipil pencuri air atau seorang tentara 33 yang membantai keluarga warga sipil tersebut dalam usaha menangkapnya. Keempat, saat kita dihadapkan pada Riggs yang terjepit di bawah truk tangki air: apakah kita menembak mengakhiri penderitaannya, atau membiarkannya mati perlahan (yang akhirnya ia terbakar hidup-hidup jika kita biarkan). Dan masih ada skenario pilihan kelima dan keenam. Jika skenario ini termasuk mekanisme permainan, maka di sinilah keunggulannya.

Hal lain yang dianggap menarik oleh kritikus adalah perubahan emosi yang tercermin pada suara anggota tim Delta. Pada awalnya, mereka masih bisa bersuara tenang dan sedikit mengumpat. Sejalan dengan cerita game yang memaksa Walker bertindak ekstrim, dan ketidaksetujuan Lugo serta Adams atas tindakannya, suara mereka pun berubah menjadi semakin berteriak, gusar, kasar, kejam, dan banyak mengumpat. Alih-alih memerintah seperti, “Tutup pintu itu!” atau “Tembak penembak mesin itu!” ia memerintahkan eksekusi, “Aku ingin orang itu mati!” dengan nada suara yang kejam. Konon, Spec Ops: The Line inilah game yang pertama kali memunculkan unsur perubahan emosi tokoh yang begitu dirasakan oleh pemainnya.

Spec Ops: The Line: atmosfir yang suram, gelap, dan brutal

Spec Ops: The Line: atmosfir yang suram, gelap, dan brutal

Bagaimana dengan ceritanya? Sebentar, di bawah ini, ceritanya akan (sedikit) saya bocorkan. Jadi yang ngebet main game ini dan tak ingin suasananya dirusak, silakan mencari paragraf ulasan cerita di bawah yang empat atau lima paragraf setelah ini.

Dalam usaha bersatu, Lugo tertangkap dan dihukum mati oleh warga sipil. Ketika usaha menyelamatkan Lugo gagal, Walker dan Adams dihadapkan pilihan menakuti warga sipil atau membunuh mereka. Halusinasi Walker semakin kuat, sehingga Adams semakin tidak percaya kepada perintahnya. Walker dan Adam menuju menara Burj Khalifa untuk membunuh Konrad. Dalam perjalanan mereka dihadang sisa tentara 33. Walker mencoba menyerah agar bisa masuk ke dalam, namun Adams memaksa untuk bertarung sampai mati. Walker tetap lari ke dalam gedung, dan jatuh pingsan. Suara terakhir yang ia dengar adalah jeritan Adams dan suara tembakan.

Terbangun, Walker sempoyongan masuk ke menara. Saat masuk, sisa-sisa batalyon 33 menghormat padanya dan menyerah padanya. Walker menanyakan posisi Konrad dan ditunjukkan bahwa Konrad ada di penthouse. Awalnya, Konrad muncul sebagai seorang yang kharismatik. Namun, Walker lalu menemukan mayat Konrad yang telah membusuk di dekat balkon penthouse. Ternyata, Walker selama ini mengalami gangguan disosiatif untuk merasionalkan kenyataan yang ia saksikan dan tindakan yang ia lakukan. Konrad yang sebenarnya telah bunuh diri sebelum game dimulai. Konrad yang selama ini berhubungan dengan Walker selama game ternyata hanyalah halusinasi traumatik yang tak pernah ia -dan timnya- lihat ataupun dengar. Konrad yang ini hanyalah nampak di pikirannya. Proyeksi mental Konrad yang nampak bagi Walker menandakan bahwa sebenarnya Walker masih bisa memilih untuk berhenti, namun ia tetap terus karena bernafsu ingin menjadi pahlawan (yang dibantah oleh ‘Konrad’). Demi menjaga kewarasannya setelah insiden fosfor putih, kejadian setelah game banyak didistorsi oleh pikiran Walker agar Konrad tampak sebagai penjahat yang sebenarnya. Dengan halusinasinya yang akan segera berakhir, ‘Konrad’ menodongkan pistol ke kelapa Walker dan mulai menghitung dari 5.

Ada empat alternatif ending sesuai pilihan kita. Satu ending dihasilkan dari matinya Walker. Dan tiga lainnya dihasilkan dari Walker menembak ‘Konrad’. Namun sebenarnya, menurut kreator game ini, Walt Williams, mana pun yang dipilih, keempat ending tersebut pada hakikatnya sama saja. Kok bisa? Nah, yang ini tidak akan saya bocorkan secara eksplisit.

Cerita game ini memang banyak dipuji. Twist ending yang saya tuliskan di atas –yang sebenarnya masih ada twist ending yang lebih mengejutkan- merupakan hal yang jarang ada di game, apalagi di game third person shooter. Game yang mempunyai twist ending yang sempat saya catat hanyalah Silent Hill 2, sebuah game survival horror, genre yang lebih diterima jika mengandung twist ending. Separuh lebih tindakan Walker yang selama ini kita mainkan ternyata mayoritas hanyalah merupakan halusinasi dan ilusinya semata. Walker ternyata hanyalah seorang yang bernafsu menjadi pahlawan dengan banyak melakukan kesalahan yang ia rasionalkan sendiri dengan halusinasinya. Sungguh ide cerita yang brillian. Dengan demikian, memang cerita Spec Ops: The Line mengalahkan Max Payne 3. Namun, bagi saya, hanya dalam kategori cerita.

Mengapa Spec Ops The Line mengandung skenario dua pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan bagi pemain? Mengapa ada perubahan emosi yang tampak pada tim Delta? Mengapa semakin Walker ingin menjadi pahlawan, semakin banyak kesalahan yang ia lakukan? Game ini memang mempunyai misi tertentu untuk pemainnya….ehm…. untuk penyuka game aksi (khususnya shooter).
Dalam game lain, kita ingin menjadi pahlawan yang jagoan, membunuh musuh tanpa memikirkan konsekuensinya, dan di akhirnya, tetap menjadi pahlawan di pihak yang benar. Dan pengembang game memenuhi keinginan kita itu. Yager, pengembang Spec Ops: The Line ingin menyuguhkan pengalaman berbeda.

Yager menginginkan timbulnya perasaan berbeda pada diri pemain setelah mereka memainkan game ini. Salah satunya adalah perasaan jengah dan bersalah setelah atau saat menembak serta memilih. Bagaimana jika kita menembak seseorang dan ternyata hal itu salah, namun ketika tidak menembak, ternyata juga salah –misalnya saat Riggs terjepit truk. Dan skenario itu tanpa petunjuk sama sekali apa yang harus dilakukan.
Richard Pearsey, co-writer Spec Ops: The Line mengungkapkan, “Bagiku, seperti inilah game ini. Isi game ini adalah menempatkanmu dalam situasi yang sangat menekan di mana kamu harus menentukan pilihan, dan kami tidak memberitahumu pilihan mana yang benar.”

Salah satu adegan yang paling tidak mengenakkan adalah saat Walker harus menembakkan fosfor putih dan ternyata yang dibunuhnya adalah warga sipil. Pearsey mengungkapkan bahwa setelah adegan itu tersaji beberapa tester menghentikan game itu dan meninggalkan ruangan. Beberapa lainnya menunggu sampai selesai, namun kecewa dengan apa yang terjadi. “It was affecting people very emotionally.” katanya.

Pada titik ini, Spec Ops: The Line bertanya langsung pada pemain, “Hal ini menyenangkan? Kamu menikmati pembantaian ini? Kamu senang melihat hal buruk terjadi pada orang tak berdosa?” Saat pemain menjawab ya, Yager dan 2K bertanya lagi tentang alasannya, dan mempertimbangkan jenis orang yang bagaimanakah kita karena permainan kita. Dengan cerita tentang penderitaan ini, Spec Ops: The Line terus berkomentar tentang hal tidak penting dalam game perang dan orang yang memainkannya.
“Kami ingin perasaan bahwa game ini berlawanan denganmu,” kata Walt Williams, penulis utama Spec Ops: The Line. Williams lalu merujuk pesan pada loading screen yang mengingatkan pemain akan kesalahan yang telah mereka buat, seperti “How Many Americans Have You Killed Today?” atau “Do You Feel Like A Hero Yet?”

Dengan misi tertentu ini, Spec Ops The Line mengingatkan saya akan Funny Games. Film ini dibuat untuk mengkritik kesenangan penonton akan kekerasan yang dilakukan protagonis. Sedangkan Spec Ops: The Line dibuat untuk mengkritik kesenangan pemain game akan kekerasan yang dilakukan dalam game. Apakah pesan ini terpenuhi? Bagi saya sedikit ya. Namun saya tetap saja menikmati menembak kepala orang dalam game. Ini hanya game, saya benar-benar tidak melakukannya, kan?

Berkaitan dengan cerita, game ini juga penuh dengan simbol-simbol. Contoh, terdapat beberapa gambar orang bermata hitam pada paruh utama game. Ini lambang untuk adanya situasi yang mengerikan di sekitar tempat gambar tersebut. Ada juga pohon yang berdaun rimbun, namun begitu Walker melewatinya, jika kita melihat ke belakang, pohon itu mati dan daunnya menghilang. Apakah ini lambang bagi keputusasaan Walker untuk menemukan orang yang masih hidup di Dubai? Atau lambang kegilaannya? Terserah tafsiran Anda. Spec Ops: The Line terbuka bagi multi tafsir.

Berkaitan dengan twist ending yang lebih besar dan ending yang sama saja hakikatnya –paling tidak menurut tafsiran Walt Williams, penulis utamanya- Anda bisa membacanya di sini. Itu pun konon sudah ada petunjuknya di sepanjang cerita.

Spec Ops: The Line cocok bagi Anda yang suka dengan third person shooter. Namun jangan berharap mekanisme yang unik, karena bobot game ini adalah pada ceritanya. Game ini juga cocok untuk Anda yang suka game dengan suasana yang suram, gelap, brutal, dan cerita yang tidak biasa.

Judul: Spec Ops: The Line
Tahun Rilis: 2012
Genre: Third Person Shooter
Pengembang: Yager
Penerbit: 2K Games

Advertisements