Funny Games (1997): Beranikah Anda Menontonnya? 2 (Review)

Ini merupakan bagian kedua dari ulasan saya tentang Funny Games (1997). Bagian pertama tulisan saya adalah sinopsisnya, di mana Anda dapat berhenti membaca di bagian mana pun, karena saya membocorkan jalan ceritanya sampai akhir. Di bagian kedua ini, tetap saja juga mengandung bocoran. Sebab, tidak mungkin saya review film ini tanpa menyebutkan fragmen-fragmen penting film ini. Oke, silakan ambil resikonya.

Waktu menonton film ini, yang ada di benak saya adalah film ini adalah salah satu film yang masuk dalam kategori “the most disturbing”. Hanya itu saja. Apakah kategori “the most disturbing” itu dikarenakan penuh dengan muncratan darah, mutilasi, makan kotoran manusia, penyiksaan dan sebagainya, atau sekadar very sad ending, saya kurang tahu. Sudahlah, nikmati saja. Begitu yang ada di benak saya waktu itu.

Funny Games: (bukan) film thriller

Funny Games: (bukan) film thriller

Pada awalnya, saya sudah cukup terganggu dengan perilaku Peter dan Paul waktu mereka meminta telur dengan cara yang halus tapi memaksa. Cara halus tapi memaksa seperti yang ditampakkan Peter dan Paul bagi saya adalah suatu indikasi bahwa mereka ini sakit. Suka cari gara-gara. Psikopat gitu lah. Mungkinkah ini unsur dari “the most disturbing” nya?

Saat melihat kaki Sissi yang tergeletak dan simbahan darahnya di lantai, barulah saya tahu mengapa film ini termasuk kategori the most disturbing movie. Ada anak yang mati. Tambah sadar lagi ketika Georgie mati ditembak dengan sangat mengenaskan. Dua anak kecil mati. Saya belum pernah melihat film yang anak kecilnya mati ditembak seperti ini. Orang dewasa disiksa, dimutilasi, dipenggal kepalanya di film itu biasa. Anak kecil mati ditembak tanpa alasan? Baru kali ini saya menemukannya.

Sebenarnya, lebih di awal, ada lagi hal yang tak biasa terjadi di film Hollywood: anjing kesayangan mati lebih dulu. Biasanya, mayoritas film Hollywood akan berusaha agar hewan peliharaan protagonis tetap hidup sampai akhir film. Tapi di Funny Games ini tidak. Oke, ini bisa menjadi satu point unsur mengganggu dari film ini.

Ingat adegan remote? Ini juga adegan yang mengaduk emosi penonton. Penonton sudah berharap bahwa Anna berhasil melumpuhkan Peter dan akan berhasil lolos dari Peter dan Paul. Tapi Haneke mementahkan harapan penonton (dan mengejek penonton) dengan adegan remote itu. Walau sebagian penonton merasa tertipu dengan adegan ini, tapi sebagian lain merasa ini adegan yang cerdas –khususnya dalam konteks yang akan tulis di bawah.

Harapan penonton yang dimentahkan sutradara terjadi lagi juga pada menjelang akhir film. Ingat pisau yang akan diambil oleh Anna? Paul dengan simpelnya mengetahui hal tersebut, dan membuang pisau tersebut ke danau. Penonton yang telah mempunyai secuil harapan akan akhir yang happy, mentah lagi. Dan oh, betapa sederhananya akhir hidup Anna. Sederhana. Tidak dramatis sama sekali. Sepertinya, nyawa Anna itu sangat murah.

Sebelum melihat Funny Games, saya tidak mampu mengingat film di mana saya merasakan emosi yang sama dengan emosi keluarga George: keputusasaan, perasaan tidak tertolong, terhina, dan terteror. Yang membuat Funny Games sangat menganggu adalah konten emosional dari akibat yang timbul karena kekerasan terhadap keluarga George.

Saya jadi paham mengapa film ini bisa termasuk kategori film yang sangat mengganggu. Konon, dari penonton manca sana, beberapa penonton di bioskop benar-benar keluar dari bioskop karena tidak mau meneruskan menonton film ini.

Lallu bagaimana dengan Paul yang bisa “berkomunikasi” dengan penonton? Oh ya, dan adegan remote itu?

Demi melihat Paul yang tersenyum mengejek sambil mengedipkan ke arah penonton waktu Anna mencari anjingnya, saya baru menyadari pasti film ini ada apa-apanya. Tidak sekadar film yang sangat mengganggu.

Setelah membaca ulasan di sana-sini, barulah saya paham mengapa film ini begini.

Film ini merupakan film kritik atas kekerasan yang biasa diusung oleh film-film aksi, horror, dan thriller (Hollywood) lainnya. Penonton sudah merasa biasa dan bahkan senang dengan darah yang muncrat, tubuh termutilasi, kepala terpenggal dari film-film yang biasa mereka tonton. Apalagi jika yang melakukan kekerasan itu adalah protagonis yang dalam keadaan terjepit di bawah ancaman bahaya antagonis. Bukankah kita lega melihat protagonis berhasil memenggal kepala monster yang selama ini mengejar-ngejarnya?

Michael Haneke ingin mengkritisi hal itu. Bagaimana jika yang tersiksa, tertekan, dan terancam bahaya adalah protagonis yang tak mampu melakukan apa-apa? Keluarga George adalah keluarga biasa. Bahkan adrenalin mereka tak mampu memicu mereka untuk melawan balik. Bahkan keberhasilan Anna merebut senapan pun digagalkan. Bagaimana jika kekerasan yang disukai penonton menimpa mereka? Bagaimana jika kekerasan itu menimpa anak kecil mereka yang tak bersalah? Bagaimana jika akhirnya keluarga ini terbantai habis? Lalu, sang psikopat pun leluasa mencari korban lagi?

Paul yang mampu berkomunikasi dengan penonton mengikutsertakan tanggung jawab penonton dalam film ini. Betapa enaknya penonton makan popcorn sambil menonton protagonis sebuah film membantai musuh-musuhnya. Penonton tidak ikut bertanggung jawab terhadap kekerasan tersebut. namun, tidak dalam Funny Games. Haneke mengajak penonton juga bertaruh, mengajak penonton untuk ikut bertanggung jawab meneruskan kekerasan yang belum selesai. Ini juga bisa dimaknai sebagai ejekan bahwa penonton tak bisa berbuat apa pun terhadap keluarga George, walau mereka sangat ingin siksaan terhadap keluarga George berhenti.

Sebenarnya, kekerasaan dalam Funny Games tidak secara eksplisit ditampakkan, kecuali hanya sedikit sekali. Tertembaknya Georgie junior tidak ditampakkan. Tubuh Anna yang dipaksa bugil juga tidak dipertontonkan kepada penonton, hanya ekspresi Anna yang malu dan terhina –Susanne Lothar sangat bagus dalam bagian ini. George yang ditusuk di depan Anna juga tidak ditampakkan, begitu juga saat ia ditembak mati. Satu-satunya kekerasan yang tampak adalah ketika Peter ditembak Anna. Menyadari hal ini, saya tambah yakin jika ini adalah film kritik. Bandingkanlah dengan kekerasan, darah yang muncrat, dan kepala terpotong yang biasa muncul pada film-film semacam Evil Dead, atau Hostel.

Sarat dengan simbolisme

Sarat dengan simbolisme

Film ini juga sarat dengan simbolisme –paling tidak dalam pandangan saya. Misalnya, pada adegan awal, keluarga George memilih-milih musik klasik dalam mobil, namun tiba-tiba diperdengarkanlah musik metal yang tidak karuan. Bagi saya, ini adalah simbol bahwa ketenangan dan kedamaian bisa tiba-tiba rusak. Begitu juga dengan telur-telur yang pecah; begitu rapuhnya pertahanan keluarga George karena mereka adalah orang biasa. Percakapan Paul dan Peter di akhir film tentang realitas dan khayalan serta batas-batasnya sebenarnya juga mengungkapkan isi film ini sendiri tentang kritik terhadap kekerasan dalam film dan kekerasan dalam kenyataan.

Karakter Paul dan Peter juga mengandung pesan tersembunyi yang apik. Mereka bersikap sopan dan lemah lembut dalam berbicara. Mereka berpakaian putih-putih, bahkan memakai kaos tangan putih. Mereka tampak berpendidikan tinggi. Nama Peter dan Paul juga diambil dari Perjanjian Baru. Pesannya? Orang-orang yang tampak baik-baik saja bisa menjadi orang yang kejam, sadis, brutal, dan gila. Ini mengingatkan saya akan Spoorloos atau The Vanishing. Yang menarik lagi, sampai akhir cerita, motivasi Peter dan Paul berbuat kekerasan tidak diungkap –dan memang tidak perlu untuk diungkap. Ini berbeda dengan film Hollywood yang ‘harus’ mengungkapkan latar belakang antagonis: karena mereka disiksa waktu kecil, kerasukan, sakit jiwa, melihat keluarganya dibantai, dan sebagainya.

Peter dan Paul: Serigala berbulu domba

Peter dan Paul: Serigala berbulu domba

Satu hal lagi yang saya suka dari Funny Games ini adalah tingkat realistisnya yang begitu terasa. Tanpa musik latar belakang dan dengan hanya mengandalkan suara-suara yang benar-benar terjadi dari adegan, tingkat realistis film ini tercapai dengan sangat bagus. Long shot atau pengambilan gambar dalam durasi lama tanpa terputus juga meningkatkan tingkat realistis Funny Games. Apalagi dengan pemain Eropa yang sebelumnya tidak pernah saya kenal. Pemain yang demikian membuat saya tidak sadar bahwa mereka hanya pemain film.

Apakah pesan Haneke tentang kekerasan dalam film terpenuhi? Bagi sebagian orang ya, bagi sebagian lain tidak. Bagi saya sendiri, hal itu tidak begitu tercapai. Memang sangat mengerikan dampak kekerasan bagi korbannya. Tapi, saya tetap saja suka menonton film yang mengandung unsur kekerasan. Saya sendiri juga tidak begitu anti dengan protagonis yang melawan balik antagonis hingga si jahat terbunuh. Beberapa orang jahat memang perlu diberi pelajaran dan dihukum.

Oh ya, Funny Games ini juga sudah diremake pada 2007 oleh sutradaranya sendiri! Betul. Konon, pada awalnya, Haneke memang ingin membuat Funny Games dengan bintang dari Hollywood. Namun karena terlanjur kepingin jadi, akhirnya dia memakai pemain dari Austria.

Hebatnya, remake Haneke ini hanya mengganti pemain dan bahasanya saja. Urutan adegan, urutan dialog, rumah yang dipakai sebagai tempat syuting semuanya sama. Saya juga sudah menonton versi remake-nya ini, dan memang benar-benar sama. Versi remake Funny Games dirilis dengan judul Funny Games US dengan Naomi Watts menggantikan Susanne Lothar dan Tim Roth menggantikan Ulrich Muhe. Yang bikin kaget lagi, konon, Tim Roth tidak mau menonton film yang dibintanginya sendiri ini karena saking disturbingnya film ini.

Anda yang suka thriller tetap saya rekomendasikan untuk menonton film ini. Tetap saja film ini tegang dan mencekam. Anda yang peduli dengan anti kekerasan juga (semoga) bisa menikmati film ini. Anda yang mencari film unik dan berbeda, sungguh film ini pantas Anda tonton.

Judul : Funny Games
Tahun Rilis : 1997
Genre : Thriller, Drama
Sutradara : Michael Haneke
Penulis : Michael Haneke
Pemain : Susanne Lothar, Ulrich Muhe, Arno Frisch, Frank Giering, Stefan Clapczynski

Advertisements