Funny Games (1997): Beranikah Anda Menontonnya? 1 (Sinopsis)

Adakah film yang dibuat agar tidak ditonton? Atau paling tidak agar para penontonnya tidak mau melanjutkannya? Jika ada, mungkin itu adalah film Funny Games (1997) ini.

Saya ketemu dengan film ini karena memang sengaja mencari film yang masuk kategori “The Most Disturbing Movie”. Ternyata banyak yang merekomendasikan film satu ini. Senangnya lagi, ini film Eropa, tepatnya Austria –syukurlah, bukan film Hollywood- jadi semoga saja plotnya bukan plot kebanyakan.

Funny Games yang tidak funny, bahkan disturbing

Funny Games yang tidak funny, bahkan disturbing

Film garapan Michael Haneke ini sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai film thriller psikologi. Tapi ya bagaimana pun juga, dengan kemasan seperti itu, pastilah ia masuk kategori thriller psikologi, bahkan sebagian memasukkannya ke genre horror. Konon film ini dibuat dengan tujuan tertentu yang spesifik, Hm, apa itu?

Karena keunikan film ini, saya (terpaksa) membocorkan jalan ceritanya. Ini tidak lain karena film ini benar-benar beda dan aneh. Lagian, menurut saya, tidak akan pas ulasan tentang film ini jika tidak diceritakan secara mayoritas jalan ceritanya.

Begini ceritanya. Sebuah keluarga Jerman yang kaya raya pergi berlibur ke rumah danau mereka di Austria. Mereka adalah sang bapak, Georg (Ulrich Muhe), istrinya, Anna (Susanne Lothar), dan anak mereka Georgie (Stefan Clapczynski). Anjing keluarga ini, Rolfi, mereka ajak juga. Sesampainya di kawasan rumah danau, mereka melewati rumah tetangga mereka, keluarga Fred. Mereka melihat Fred ditemani oleh dua pemuda Austria berpakaian putih-putih, yaitu Peter dan Paul, yang dikenalkan Fred sebagai putra temannya.  Keluarga ini pun lalu berlalu dan akhirnya sampai ke rumah danau mereka.

Singkat cerita, salah seorang pemuda tersebut, Peter, mendatangi Anna di rumah danaunya. Ia mengatakan bahwa ia diutus keluarga Fred untuk meminta telur karena mereka kehabisan telur. Anna pun memberinya empat telur. Peter pun pamit, tapi, sebentar kemudian, prak! Ternyata Peter tak sengaja menjatuhkan telur-telur tersebut.

Peter meminta telur lagi. Anna terlihat mulai kesal. Oh, tidak, Peter mendekat ke wastafel tempat telpon genggam Anna diletakkan. Seolah-olah tak sengaja,Peter mendorong telpon genggam Anna masuk ke dalam air. Anna yang sudah kesal segera memberinya empat telur lagi dan mempersilakan Peter keluar.

Tak lama kemudian, terdengar ada orang masuk lagi dan Rolfi menggonggong. Peter ternyata sudah masuk bersama Paul. Peter berkata bahwa ia takut dengan Rolfi. Saat itu juga, Paul melihat tongkat-tongkat golf Georg. Ia ingin mencobanya di luar. Maka diambillah satu tongkat dan sebuah bola, lalu keluarlah Paul.

Pada saat itu, Georg dan Georgie yang sedang mempersiapkan perahu di danau merasa aneh dengan Rolfi yang menggonggong. Tiba-tiba saja gonggongan Rolfi berhenti. Georg pun beranjak meninggalkan anaknya ingin melihat keadaan.

Sebentar kemudian, Paul pun sudah masuk ke rumah. Anna sudah mulai merasa terganggu dan meminta mereka pergi. “Aku tidak tahu apa yang kalian mainkan, tapi aku tidak mau ikut,” katanya.

Paul  merasa aneh dengan sikap Anna, “Permainan apa? Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba kau tidak bersahabat. Tom, apakah kau berkelakuan tidak baik saat aku keluar?” Hah, siapa Tom? Oh, ternyata Paul memanggil Peter sebagai Tom. Siapakah nama sebenarnya, Tom atau Peter?

Melihat adegan minta telur ini, saya juga benar-benar kesal. Saya bersimpati terhadap Anna. Keadaan yang benar-benar menyebalkan. Ini seperti yang saya alami, waktu saya pindah rumah, kemudian dalam 2 hari, sudah ada tiga penduduk asli yang bertandang mau berhutang. Hm, atau saat menghadapi penjual keliling yang memaksa-maksa untuk membeli jualannya.

Dengan kesal, Anna menarik Peter (atau Tom?) ke arah pintu. Ouch, bagi saya, ini kesalahan pertama. Seberapa pun kesalnya, jangan sampai menyentuh kasar. Waktu itulah, Georg datang. Paul menyatakan bahwa istrinya telah salah paham. Peter pun menceritakan kronologinya. Mereka mengatakan, bahwa mereka hanya minta telur.

Georg meminta keterangan dari Anna, namun Anna menyuruh Georg memberikan telurnya saja dan meminta Georg mengusir mereka. Anna segera masuk. Georg merasa bahwa ini lebih dari sekadar telur konyol. Ia pun meminta mereka pergi. Georg tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sehingga ia tidak bisa menjadi penengah yang adil.

Paul dan Peter segera meminta telur itu lagi. Namun nada Paul tidak disenangi Georg. Terpancing emosi, Georg menampar Paul. Oh tidak, ini kesalahan kedua. Seberapa kesalnya, jangan pernah memulai memukul. Georg menyuruh mereka keluar. Tapi… Georg segera terjatuh. Peter telah memukul lutut Georg. Segera saja, Paul dan Peter menguasai keadaan. Georgie juga mereka tahan untuk bertindak.

Anna keluar dari dalam. Paul mengatakan kepada Anna bahwa George yang menampar wajahnya lebih dulu. Nah, benar kan? George meminta mereka pergi, tapi Paul mengatakan bahwa Peter seharusnya melihat luka George. Ini karena  Peter belajar kedokteran. Mereka memaksa.

Dengan menahan sakit, Georg bertanya, “Mengapa kalian lakukan ini?” Tidak menjawab, Paul malah mengajukan pertanyaan dengan mengeluarkan bola golf, “Apa ini? Mengapa ada di sakuku?”

Anna mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi pada Rolfi. Lalu, Anna pun mencari Rolfi dengan panduan Paul. Pada adegan pencarian inilah, Paul menoleh ke kamera dan mengedipkan mata. Ada apa ini? Paul mengedipkan mata ke arah penonton?

Paul mengedipkan mata ke penonton -ada apa ini?

Paul mengedipkan mata ke penonton -ada apa ini?

Akhirnya, ketemulah Rolfi dan ia telah mati.

Baiklah, jika Anda tidak ingin mengetahui bocoran film ini, Anda bisa mencukupkan membaca sinopsisnya sampai di sini. Sebab, saya sudah memutuskan untuk menceritakannya sampai akhir film.

Pada saat itu juga, tetangga sebelah datang dari danau dengan perahunya. Paul diperkenalkan sebagai famili tetangga Anna. Ada orang lain, tapi tentu saja tidak ada yang bisa dilakukan Anna.

Singkat cerita, keluarga Georg menjadi sandera Peter dan Paul. Sepertinya, tidak akan ada yang menolong mereka. Mereka masuk ke ruang keluarga di dalam. Paul menyatakan bahwa dirinya sudah berusaha bersahabat tapi tamparan Georg merupakan reaksi yang tak dapat diterima.

Georg bertanya mengapa mereka melakukan hal ini. Paul melemparkan pertanyaan ini kepada Peter. Peter menyatakan bahwa jawabannya merupakan hal yang sulit. Paul malah menyajikan berbagai macam latar belakang Peter yang penonton sendiri tak akan tahu mana yang benar.

Georg menyatakan bahwa ia paham maksud mereka. Entah sebenarnya hal itu benar atau tidak. Berikutnya, Paul malah mengajukan taruhan:  dalam 12 jam, apakah mereka bertiga akan tetap hidup atau tidak. Keluarga Georg diam saja. Untuk kedua kalinya, Paul menoleh ke arah penonton, dan berkata, “Apakah mereka punya kesempatan untuk menang? Kamu di pihak mereka, kan?” Akhirnya, Paul lah yang menetapkan taruhan sudah dimulai.

Suasana menjadi lebih menegangkan ketika Paul memulai permainan kucing dalam karung: kepala Georgie diselubungi sarung bantal sementara Anna harus menanggalkan pakaiannya. Saat Anna memakai pakaiannya lagi, Georgie ternyata ngompol. Paul meminta Peter untuk mengantar Georgie membersihkan celananya. Anna dan Georg mencegah Peter. Saat itulah Georgie berhasil melarikan diri. Ia naik ke lantai dua dan melarikan diri keluar lewat jendela.

Georgie berhasil keluar dari rumah mereka melalui pinggiran danau. Ia berlari masuk ke rumah keluarga Fred…. dengan dikejar Paul.

Di rumah ini, Georgie malah menemukan kenyataan mengerikan: Sissi, putri keluarga Fred telah mati bersimbah darah. Georgie mengambil senapan yang ada di lantai. Tapi Paul menemukannya. Georgie menodongkan senapannya ke Paul. Sayang, sudah tidak ada pelurunya. Paul pun menangkap Georgie dan mengembalikan ke rumahnya. Pelajaran moral di sini adalah periksalah senapan, apakah ada isinya atau tidak. Oh, dan ajarkanlah hal itu pada anak Anda.

Dengan adanya senapan, Paul malah mengajukan permainan baru: siapa yang ditembak lebih dulu dengan menanyakan umurnya. Ketika Paul ke dapur untuk membuat sandwich dengan meninggalkan Peter yang memegang senapan yang telah diisi peluru di depan keluarga yang malang itu, terdengar tembakan. Lalu pukulan, erangan, jeritan, dan tangisan. Siapa yang tertembak?

Adegan berikutnya hanyalah menampakkan televisi dan dinding yang bersimbah darah. Paul menyalahkan Peter yang tergesa-gesa menembak. Namun Peter membela diri bahwa, “…tapi ia akan melarikan diri.”

Siapa yang tertembak?

Siapa yang tertembak?

Berikutnya, tampak bahwa yang tertembak adalah Georgie jr. Ayahnya tergeletak, sedangkan yang duduk hanyalah Anna. Peter dan Paul tampaknya baru keluar.

Anna lalu beranjak dengan tangannya yang terikat untuk mematikan televisi. Ia lalu menuju dapur, tampaknya untuk mengambil pisau untuk melepaskan ikatannya. George lalu sadar dan menjerit menangis. Anna mendatanginya dan memeluknya. Akting Ulrich Muhe saat menjerit dan menangis cukup bagus dan tampak nyata. Sungguh memilukan melihat tragedi keluarga ini.

Mereka lalu berpikir untuk keluar dari rumah itu. Anna merangkul suaminya, membantunya berjalan dan berdiri. Ketika mereka meninggalkan ruang tamu itu, gantian Anna yang menangis ketika melihat mayat Georgie. Rentetan adegan dari tergeletaknya Georgie sampai beranjaknya Anna dan George dari ruang keluarga ini merupakan adegan yang mencekam, memilukan, dan menyayat hati.

Pengambilan gambar yang panjang ....memilukan dan mencekam

Pengambilan gambar yang panjang ….memilukan dan mencekam

Ternyata Peter dan Paul mengunci pintu keluar. Anna harus keluar dari jendela. Anna akhirnya keluar lewat jendela, dan berhasil lari ke jalan dengan memotong kawat pagar.  Sedangkan George ditinggal di rumah, bersembunyi sambil mengeringkan ponsel dengan pengering rambut.

Anna berusaha meminta tolong ke tetangga, tapi tidak ada yang mendengar. Ia lari ke jalan dan melihat lampu mobil. Ia ingin minta tolong kepada pengemudinya itu, tapi ragu-ragu, mungkin saja ia takut jika di mobil tersebut ada Peter dan Paul. Ketika ia bersembunyi, mobil tersebut lewat, dan ternyata itu mobil yang dikendarai orang lain, bukan Peter dan Paul.

Anna melihat lampu mobil lagi yang mendekat. Kali ini ia berdiri di tengah jalan menunggunya.

Sementara itu, George berusaha berjalan ke ruang keluarga dan menutupi mayat anaknya. Saat itu juga, Anna masuk eh dimasukkan lagi ke dalam rumah. Ternyata mobil yang kedua dikendarai oleh Peter dan Paul!

Paul mengajukan satu permainan lagi: siapa korban selanjutnya dan dengan apa ia akan dibunuh: pisau atau senapan. George memohon untuk mencukupkan saja. Paul beralasan bahwa sampai menit tersebut, durasi film belum mencukupi. Sekali lagi, ia memandang ke arah penonton.

Melihat George yang disiksa dengan pisau oleh Peter di depannya, Anna pun menyanggupi untuk bermain lagi. Paul mengatakan bahwa Anna harus mengucapkan doa dengan sungguh-sungguh. Anna harus berlutut karena harus berdoa kepada yang di atas sana. Jika tidak melakukannya dengan benar, George akan disiksa lagi sampai Anna melakukannya dengan benar.

Saat harus mengulang doa lagi, Anna dengan cepat mengambil senapan dan menembakkannya ke Peter. Peter terlontar ke dinding. Paul memukul Anna dan mencari remote. Setelah remotenya ketemu, ia menekan tombol pause dan rewind. Adegan pun berjalan berbalik kembali ke saat Anna harus mengulang doanya. Apa lagi ini? Sungguh aneh film ini.

Seperti sebelumnya, Anna berusaha mengambil senapan. Oh tidak. Paul lebih sigap untuk lebih cepat mengambilnya. Jadi remote tadi berguna untuk membatalkan langkah yang diambil Anna. Baru kali ini saya melihat film yang seperti ini.

Karena ingin mengambil senapan, maka Anna melanggar peraturan dan dianggap gagal. Paul menembak George.

Setelah itu, Paul dan Peter membawa Anna ke pinggir danau untuk naik perahu. Ternyata hari sudah pagi. Dengan perahu mereka berlayar ke danau. Paul dan Peter mengobrol tentang materi dan bukan materi, lubang hitam, dan bla-bla-bla. Anna masih saja terikat. Oh, tapi Anna berhasil menemukan pisau di perahu itu. Akankah ia berhasil lolos? Tidak. Paul melihatnya, dan Peter pun membuang pisau itu.

 

Anna didudukkan di antara mereka. Peter melihat jam, dan sudah jam 8 pagi. Paul mendorong Anna ke danau. Peter bertanya mengapa Paul melakukan hal itu, karena Anna sebenarnya masih punya 1 jam tersisa. Paul menjawab bahwa sudah sulit mengendalikan perahu ini, dan ia sudah lapar.

Paul dan Peter berbicara lagi tentang alam nyata dan fiksi, seseorang bernama Kelvin yang fiktif, namun keluarga Kelvin ini adalah nyata. Oke, pembicaraan mereka tidak begitu mudah dipahami. Namun sebenarnya ada simbolisme di situ.

Mereka melabuhkan perahu di dek tetangga Anna yang sempat menyambanginya kemarin. Paul mengetuk pintu dan meminta telur dengan alasan keluarga George kedatangan tamu. Si istri beranjak mengambilkan telur dan Paul melihat ke arah penonton.

Musik penutup yang berupa lagu metal yang tidak karuan pun dimainkan lagi seperti di awal film ini. Selesai.

Bagaimana?

Mengapa Funny Games mempunyai hal-hal yang tak lazim di film-film (thriller) lainnya? Jawabannya ada di ulasan saya.

Judul : Funny Games
Tahun Rilis : 1997
Genre : Thriller, Drama
Sutradara : Michael Haneke
Penulis : Michael Haneke
Pemain : Susanne Lothar, Ulrich Muhe, Arno Frisch, Frank Giering, Stefan Clapczynski

Advertisements