Hideout (2014): Lebih dari Sekadar Terperangkap dalam Gua Maut

Salah satu hal yang kubenci dari serial adalah dibatalkan terusannya. Entah itu serial komik, novel, atau televisi. Sekitar dua puluh tahun lalu, terjemahan komik Akira tidak diteruskan penerbitannya oleh Elex Media. Kungfu Boy pun sempat tertahan. Di pertelevisian, kasus seperti ini lebih banyak, misalnya saja yang terjadi pada serial-serial kesukaan saya: Twin Peaks, The X-Files, dan Millennium.

Hideout -terperangkap dalam gua, untunglah bukan Zombie

Hideout -terperangkap dalam gua, untunglah bukan Zombie

Itulah yang membuat saya beberapa tahun lalu menunda untuk membeli salah satu karya Naoki Urasawa, Monster. Yang kemudian membuat saya agak melupakannya sehingga kesulitan mendapatkannya lagi. Beruntung beberapa komik ternyata dibuat hanya satu volume saja. Sebutan yang populer untuk komik jenis ini adalah one shot.

Salah satu one shot manga horror yang baru saja terbit –pada saat posting ini saya tulis- adalah Hideout. Dengan kover sebuah cakar merobek kertas dan menampakkan sepasang mata terbelalak, calon pembaca langsung bisa menebak bahwa manga ini bertema horror. Zombie-kah? Uh!

Manga karya Masasumi Kakizaki ini tidak mengangkat tema zombie. Walaupun saya lebih memilih zombie daripada vampir, namun jika ada horror tanpa makhluk-makhluk itu, saya akan lebih menyukainya. Syukurlah, Hideout tidak bertema zombie.

Komik ini dibuka dengan gambar seorang laki-laki telanjang yang terikat di sebuah kursi. Melihat darah yang mengalir dan berceceran dari tubuhnya, tampaknya ia baru saja mengalami penyiksaan. Ia meminta agar tak dibunuh. Dan sepasang mata menyeramkan sedang memperhatikannya.

Lalu cerita berganti saat lelaki ini bersama seorang wanita –yang ternyata adalah istrinya- sedang berlibur di sebuah pantai. Melihat penyajian yang seperti ini, tampaknya adegan ini adalah kejadian sebelum si lelaki terikat di kursi tadi. Sepasang suami istri ini berlibur untuk memperbaiki pernikahan mereka. Si suami membicarakan kecanggungan yang terjadi di antara mereka setelah sebuah kejadian tidak mengenakkan setahun yang lalu. Suami ini ingin memperbaikinya dengan liburan ini, ia ingin mengulang dari awal. Si suami lalu menceritakan bahwa di pegunungan pulau tersebut terdapat sebuah air terjun. Menurut kepercayaan setempat, pasangan yang melihat air terjun itu akan bahagia. Si suami pun mengajak istrinya untuk pergi melihat air terjun tersebut, demi memperbaiki pernikahan mereka.

Malamnya, dengan mengendarai jip, mereka pergi mencari air terjun tersebut. setelah berputar-putar selama satu jam, mereka tak menemukannya. Si istri pun terpancing emosinya dan mulai mencemooh sang suami. Si suami malah menceritakan hal yang menyeramkan tentang pulau tersebut, tentang ribuan prajurit yang tewas di pulau itu. Cerita seram ini mengingatkan si istri tentang novel yang ditulis si suami. Dan juga tentang kejadian tragis yang membuat pernikahan mereka berantakan.

Mendadak, si suami menghentikan mobilnya. Katanya, bensinnya habis. Pembaca langsung mengetahui kebenarannya. Si suami mengajak istrinya untuk keluar berjalan satu kilometer meminta bantuan terdekat. Sebelum mereka mulai berjalan, si suami membuka bagasi dan melihat sebatang kunci Inggris.

Mereka pun berjalan. Dan tampaknya sudah melewati satu kilometer dan tidak bertemu dengan rumah terdekat. Ternyata, si suami merencanakan sesuatu dengan kunci inggris itu. Ia berencana membunuh istrinya. Dipukulnya istrinya dengan kunci inggris. Istrinya terjatuh dan membalas dengan melemparkan batu kepada si suami. Lalu, si istri pun berlari. Suaminya pun mengejar.

Pengejarannya berujung pada sebuah gua. Si suami pun memasuki gua tersebut. Ia menemukan istrinya terduduk di dalam gua tersebut dalam keadaan terluka. Istrinya memohon-mohon agar tak dibunuh. Namun, si suami tetap teguh dengan kekejiannya. Mendadak, sebuah geritan terdengar di belakang si suami. Ia melirik.

Seorang anak kecil dengan wajah menyeramkan sudah berdiri di belakang si suami. Anak ini menyebut-nyebut kata ibu. Lalu anak kecil berwajah seram ini menghilang.

Sampai di sini, kita akan tahu bahwa kemudian si suami ini akan tertangkap oleh seseorang (atau sesuatu?) di gua itu. Bagaimanakah ia berusaha melepaskan diri? Berhasilkah ia keluar dari gua itu? Lalu bagaimana dengan istrinya? Siapakah anak kecil berwajah seram itu? Hideout terlalu berharga untuk dibocorkan ceritanya. Jadi, saya berhenti mengulas plotnya sampai di bab satu ini saja.

Komik horror ini dituturkan secara apik dengan dua alur. Alur pertama menceritakan kisah si suami yang terjebak dalam gua. Alur kedua menceritakan kejadian sebelum sepasang suami istri ini berlibur ke pulau misterius tersebut.  Alur kedua ini menceritakan latar belakang sepasang suami istri ini, dan penyebab keretakan pernikahan mereka. Jadi, komik Hideout ini mengandung kilas balik. Sebenarnya, mudah saja bagi pembaca untuk menengarainya. Kejadian utama dituliskan dengan font komik yang biasa dipakai oleh penerbit Elex Media dan kroni-kroninya. Sedangkan, kejadian kilas balik ditulis dengan font yang berbeda.

Cerita dalam Hideout sungguh gelap. Seorang suami yang frustasi tak berdaya dengan himpitan tuntutan untuk menghidupi keluarganya. Ia adalah seorang novelis yang hampir gagal. Karyanya ditolak oleh banyak penerbit. Ini mengingatkan saya akan karakter mangaka pecundang di serial manga yang juga baru-baru ini terbit, I am a Hero, yang belum sempat saya ulas. Hal lain yang menyumbang kesuraman cerita ini adalah pernikahan mereka yang tidak bahagia. Begitu juga dengan si suami yang akhirnya membenci istrinya dan ingin membunuhnya. Begitu pula sebenarnya dengan istri yang ternyata juga membenci si suami dan sering mencemoohnya. Suramnya pernikahan mereka, sempat mengingatkan saya akan Silent Hill 2.

Hal lain yang menarik di komik ini adalah kejutan atau twist dalam ceritanya. Sebelum komik berakhir, ada kejutan yang mengungkap kejadian penting sebelum mereka pergi berlibur. Saya tidak menduga hal ini. Mungkin beberapa pembaca menganggap twist ini tidak perlu. Hm, sebenarnya, jika dihilangkan juga tidak begitu memberi pengaruh. Cuma, menurut saya, twist ini menguatkan karakter-karakter dalam komik ini. Apa itu? Silakan Anda temukan sendiri.

Depresi si suami ini mengingatkan saya akan film Falling Down (1992). Film ini bercerita tentang seorang karyawan departemen pertahanan yang frustasi karena baru saja dipecat dari pekerjaannya dan karena masalah keluarga. Lalu ia pun mengamuk. Film zaman sekarang yang mirip adalah Rampage (2009). Kalau settingnya yang berada dalam gua penuh labirin, komik ini mengingatkan saya akan film horror, Descent (2005). Saya sendiri membayangkan, jika komik ini diangkat ke layar lebar, kemungkinan besar akan menjadi sebuah film horror yang menarik.

Bagusnya lagi, komik ini ditutup dengan ucapan terima kasih oleh pengarangnya, Masasumi Kakizaki. Pengarang yang pernah menelurkan manga Rainbow dan Pandemic ini berterus-terang bahwa ia memang fans film horror dan novel horror. Bahkan ia mengaku terpengaruh dengan Stephen King. Baiknya lagi, ia mempersilakan pembaca untuk mengkritisi dan memberi saran terhadap karyanya ini. Sayangnya, tidak ada alamat emailnya.

Anda yang gemar cerita horror, thriller, hal-hal yang suram, tentunya akan menyukai Hideout ini. Mengingat komik ini one shot, dan biasanya manga one shot itu lekas habis serta tidak dicetak ulang, maka Anda yang tertarik segeralah untuk mencarinya di toko buku.

Judul: Hideout
Genre: horror, thriller
Pengarang: Masasumi Kakizaki
Volume: 1 (one shot)
Halaman: 280
Tahun terbit: 2014 (Indonesia), 2010 (edisi asli)
Penerbit: Level Comics (Indonesia)

Advertisements