Mr. Brooks (2007) : Kisah Pembunuh Berantai yang Unik dan Cerdas

Waktu pertama kali mengambil film ini di rental, saya sebenarnya tidak terlalu paham film ini tentang apa. Dengan bintang seperti Kevin Costner, William Hurt, dan Demi Moore, harapan saya, film ini worth watching gitu lah. Dan ternyata saya benar.

Sebelum lebih jauh, sebenarnya tema dasar film ini agak klise. Namun sudut pandang penceritaannya dan jalannya plot berbeda jauh dari film-film thriller bertema sama. Lima belas menit pertama, saya langsung bisa paham dari dialog William Hurt dan Kevin Costner bahwa film ini tentang orang yang terganggu jiwanya. Hm, tema ini memang selalu menarik bagi saya dan istri saya.

Earl Brooks (Kevin Costner) adalah seorang pebisnis sukses yang mendapat anugerah Man of The Year dari dewan perdagangan di Portland Oregon. Begitulah kehidupan yang tampak darinya. Bagaimana dengan yang tidak tampak? Earl ternyata mempunyai seorang alter ego, yaitu Marshall (William Hurt) yang haus darah, suka kekerasan dan pembunuhan, serta yang selalu mendorong Earl melakukan pembunuhan. Ya, jangan kaget. Sejak awal, identitas pembunuh berantai sudah dipaparkan ke penonton, yaitu si tokoh utama sendiri, Earl Brooks. Inilah beda film ini dengan film pembunuh berantai lainnya. Di film-film bertema sama, penonton dihadapkan pada teka-teki dan misteri tentang siapakah pembunuhnya. Di Mr. Brooks, kita akan mengikuti cerita seorang pembunuh berantai dari sudut pandang pembunuh itu sendiri. Cukup menarik bagi saya.

Sang Ego dan Alter-Egonya

Sang Ego dan Alter-Egonya

Selain sebagai pebisnis kemasan yang sukses, Earl ternyata juga seorang pembunuh berantai yang dikenal sebagai Thumbprint Killer. Cuma, dia sudah berhasil tidak membunuh selama dua tahun ini karena rutin hadir pada kelompok terapi 12 langkah untuk mengatasi kecanduan membunuhnya. Pada malam penghargaannya, Earl tergoda untuk membunuh lagi. Dan, Marshall memancing-mancingnya lagi untuk memuaskan godaan tersebut. Akhirnya, Earl membunuh pasangan yang sedang melakukan hubungan seks di apartemen mereka. Dan, seperti biasanya, Earl meninggalkan cap jari darah korbannya di tutup lampu. Sebagai pembunuh, Earl cukup profesional. Setelah melakukan kejahatannya, Earl membersihkan tempat kejadian, mengunci pintu apartemen korban, bahkan membakar pakaian yang ia gunakan untuk membunuh setelah itu. Namun, Marshall menyadari, ternyata gordin apartemen korban terbuka.

Paginya, Jane Brooks (Danielle Panabaker), putri Earl, tak disangka-sangka pulang dalam keadaan drop out dari sekolahnya di Palo Alto. Ia mengunjungi ayahnya dan mengutarakan keinginannya untuk bekerja di perusahaan ayahnya. Pada hari yang sama, seseorang bernama Mr. Smith muncul di kantor Earl dan membawa foto-foto saat Earl membunuh pasangan yang terakhir. Smith berencana memeras Earl. Uniknya, Smith tidak memeras uang. Smith memaksa Earl untuk mengajaknya saat Earl melakukan pembunuhan. Earl menyetujuinya.

Istri Earl akhirnya mengungkap bahwa Jane keluar dari sekolahnya karena hamil. Tak lama kemudian, dua detektif dari Palo Alto mendatangi keluarga Brooks. Mereka ingin menanyai Jane tentang pembunuhan dengan kapak yang terjadi di asrama sekolahnya. Segera, Earl dan Marshall menyadari bahwa Jane-lah yang melakukan pembunuhan. Mereka bahkan menimbang-nimbang bagaimana jika Jane masuk penjara saja agar ia tidak menjadi seperti ayahnya. Bagaimana pun juga itu hanya sebuah pilihan. Bagaimana seorang ayah yang pembunuh berantai menyelamatkan anaknya agar tidak menjadi pembunuh berantai? Saya tidak akan membocorkan solusi Earl terhadap kasus anaknya ini.

Ketakutan Earl terhadap putrinya... sudahkah terjadi?

Ketakutan Earl terhadap putrinya… sudahkah terjadi?

Di sisi lain, film ini juga menceritakan Detektif Tracy Atwood (Demi Moore) yang sedang memburu Thumbprint Killer. Namun dalam waktu yang sama, ia juga diburu oleh Thornton Meeks, seorang napi pembunuh berantai yang dulu ia jebloskan dan baru saja lepas dari penjara. Tidak hanya itu, Atwood juga sedang berkutat dengan kasus perceraiannya sendiri yang rumit.

Earl memutuskan bahwa ia ingin berhenti membunuh, tapi ia juga tahu bahwa dirinya tidak bisa menghentikan kelainannya tersebut. Karena tidak ingin tertangkap dan memalukan keluarganya, Earl menyiapkan rencana untuk menulis surat kepada keluarganya bahwa ia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan dan berada di ambang kematian, lalu meninggalkan mereka, tanpa pernah kembali.

Bagaimana Earl mewujudkan keinginannya untuk tidak membunuh lagi? Bagaimana Earl lepas dari keingintahuan Smith? Dan juga lepas dari perburuan Atwood? Saya tidak ingin mengungkapkan akhir cerita ini. Hanya saja, solusi yang diambil Earl di akhir film cukup cerdas.

Film ini melebihi harapan saya. Dengan tampilan Costner bersetelan jas di cover DVD, saya pikir ini film tentang covert operative, spy, dan yang sejenisnya. Waktu memahami William Hurt sebagai alter ego Costner, sebenarnya saya sudah berkata dalam hati, “Ah, sakit mental, kepribadian ganda, membosankan.” Namun begitu Danielle Panabaker muncul, sepertinya ada sesuatu di balik kemunculannya. Semakin menarik lagi ketika kasus pembunuh berkapak mengemuka. Dan saya jadi betah menonton melihat Earl menyelesaikan kasus putrinya.

Sebagian orang –termasuk saya- terjebak dengan kharisma Costner yang sebelumnya tidak pernah bermain sebagai pemain utama dengan karakter pembunuh berantai. Sebagian orang merasa casting ini tidak pas. Hm, menurut saya, itu hak sutradara dan tukang castingnya. Dan malahan ini membuat nilai lebih film ini: menjadi twist yang tidak disengaja (atau memang malah disengaja?). Selain itu, ini juga merupakan nilai tambah Costner yang berani mengambil peran di luar jalur yang biasa ia perankan (seperti di The Untouchables (1987), No Way Out (1987), dan Dances With Wolves (1990)).

Dari segi cerita, plotnya menarik dan cerdas, bahkan bagi saya, ini mendekati sangat menarik. Mengikuti jalan cerita dari cara pandang seorang pembunuh merupakan hal yang langka dalam tema pembunuh berantai. Setengah akhir dari pertunjukan juga memunculkan twist-twist yang tak terduga, cerdas, dan membuat saya tertawa. Ya, tertawa, saking cerdasnya solusi yang diambil oleh Earl. Walaupun demikian ada adegan di akhir film yang menurut saya terlalu dilebih-lebihkan, dan terkesan hanya untuk mengagetkan penonton saja. Adegan ini juga tidak akan saya tulis mengingat sepertinya ini memang dibuat agar penonton kaget. Yeah, sekadar menjaga amanah sang sutradara. 🙂

Film ini begitu suram dan gelap. Bukan dalam hal tampilan visualnya, namun dalam taraf pemikiran dan perenungan. Seorang sukses yang kecanduan membunuh, anak yang ternyata juga menjadi pembunuh, keinginannya untuk sembuh namun juga serangan alter egonya yang begitu sinis; tema-tema tersebut begitu gelap. Begitu juga dengan solusi-solusi yang diambil Earl juga begitu gelap dan suram. Beberapa adegan memang tetap brutal dan berdarah-darah, namun ya tidak sampai seperti Hostel atau remake Evil Dead.

Jika Anda penyuka film misteri thriller dengan kisah yang tidak biasa, penuh twist, penuh suspense, dan memaksa Anda menontonnya terus, silakan Anda menonton film ini.

Judul              : Mr Brooks
Tahun Rilis  : 2007
Genre             : misteri, thriller, drama
Sutradara     : Bruce A. Evans
Pemain          : Kevin Costner, William Hurt, Demi Moore, Dane Cook, Danielle Panabaker
Durasi            : 120 menit

Advertisements