Monster (2004-2008): Sebuah Manga Thriller

Akhirnya bisa juga saya tamatkan kedelapanbelas seri komik ini. Komik yang saya beli awal bulan lalu ini jadinya resmi selesai saya baca selama kurang lebih satu bulan. Tentu, jika itu lama maka itu karena kesibukan yang sangat hebat.

Kenzo Tenma -dokter bedah yang terobsesi mengejar Monster

Kenzo Tenma -dokter bedah yang terobsesi mengejar Monster

Komik ini terbit resmi di Indonesia sekitar sepuluh tahun yang lalu, yaitu tahun 2004. Namun saya baru tertarik dengan komik ini saat saya rajin menonton anime Death Note sekitaran tahun 2008. Gara-gara Death Note, jadilah saya tahu komik ini. Walaupun demikian, waktu itu saya belum sempat berniat mencarinya. Sampai akhirnya sekitar setengah tahun lalu, saat saya kembali tertarik membaca manga lewat Resident Evil Marhawa Desire, saya tertarik untuk mengetahui manga-manga horror atau misteri atau thriller. Waktu itulah, di ingatan saya muncul Monster ini. Dan muncul juga keinginan kuat untuk mencari komik fisiknya.

Sembilan tahun merupakan waktu yang sudah lama bagi sebuah (seri pertama) komik. Serial lengkap komik ini sudah tidak tersedia di toko-toko buku resmi. Tiga Gramedia dan dua Togamas di kota saya sudah saya sambangi dan mereka semua menyatakan bahwa komik zaman segitu sudah tidak tersedia lagi. Bahkan pihak mnc –yang dulu menerbitkan komik ini- yang saya hubungi pun menyatakan bahwa mereka tidak mencetak ulang komik monster ini. Toko komik bekas yang terkenal di kota saya pun menyatakan bahwa mereka sudah lama tidak ketemu dengan komik ini. Walhasil, pencarian lewat online pun saya lakukan.

Beberapa trit di kaskus memang menjual komik ini, namun semuanya sudah terjual sekitar tiga tahun yang lalu. Semua trit itu membuat hati saya terheran-heran. Serial lengkap komik ini dijual dengan harga yang mahal. Dalam keadaan bekas, harga per satuannya dijual sekitar 120% sampai dengan 140% dari harga aslinya. Bahkan ada yang melelang serial ini dengan membuka penawaran awal Rp 250 ribu yang akhirnya terjual dengan harga Rp 400 ribu. Waktu saya mencari, ada penjual dari pulau seberang di tokobagus yang menjualnya dengan harga Rp 500 ribu. Gila! Komik ini memang sudah menjadi barang langka yang dicari-cari. Syukurlah, dalam pencarian yang kesekian kalinya saya menemukan blog gratisan penjual komik bekas yang menjual komik ini. Sayang, serial komik yang dijual ini sudah tidak dalam keadaan lengkap; seri pertama, ketiga, dan kedelapannya sudah tidak ada. Dengan harga 250 ribu, menurut saya, lumayan lah daripada penjual lain yang tersisa yang menawarkan serial lengkapnya dengan harga dua kali lipat.  Yang bikin bersyukur lagi, penjualnya satu kota dengan saya, jadi saya enggak perlu menambah ongkos kirim. Oke lah, untuk seri yang hilang, saya bisa mendapatkannya dengan mudah versi digitalnya.

Singkat kata, akhirnya saya beli kelimabelas serial Monster ini dengan mendatangi penjualnya yang jaraknya hanya sekitar 13 km dari rumah saya. Keadaannya masih lumayan. Komik yang saya beli ini bekas dari dua buah persewaan komik. Si penjual membeli dari seseorang sudah dalam keadaan seperti itu. Konon, untung yang ia ambil pun sedikit.

Okelah, jadi kelimabelas komik sudah saya dapatkan. Tiga seri yang hilang sudah saya lengkapi dari pengunduhan. Jadi, review yang di bawah ini saya sarikan dari pembacaan lengkap serial ini. Tentu, saya  menjaganya agar tidak banyak bocorannya. Bahkan saya hanya tertarik untuk mengulas seri pertama saja. Jika cerita seri kedua –dan seterusnya- diulas, tentu tidak membuat penasaran.

Komik yang terbit di Jepang pada 1997 ini menceritakan tentang perburuan Kenzo Tenma, seorang dokter bedah yang sangat ahli di bidangnya, terhadap seorang pemuda pembunuh berantai bernama Johan. Inti ceritanya seperti itu. Pada awalnya, saya mengira serial ini akan berisi tentang satu demi satu korban yang berjatuhan –seperti Death Note. Saya sudah bersiap untuk plot yang menjemukan seperti itu. Ternyata saya salah. Komik ini benar-benar beda. Walaupun inti ceritanya sederhana, pengungkapan plotnya rumit, pengembangan ceritanya sungguh brillian dan tak terduga, karakter-karakter yang ditampilkan pun sangat kuat. Jika ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah master piece dari Naoki Urasawa, pengarangnya, maka mereka tidak salah.

Singkat cerita, Kenzo Tenma adalah seorang dokter bedah yang sangat ahli yang baru naik daun di Rumah Sakit Eissler Memorial Hospital di Dusseldorf, Jerman pada tahun 1986. Operasi-operasi bedah otak yang sangat sulit bisa ia atasi dengan sangat mudah. Karena itulah, ia didekati oleh direktur rumah sakit tersebut, Heinemann, dan putrinya, Eva. Si direktur punya misi tersendiri dalam pendekatannya, yaitu agar Tenma menyelesaikan beberapa penelitian namun nanti penelitian itu akan diatasnamakan si direktur. Sedangkan, tentu saja Eva Heinemann mendekatinya karena prediksi masa depan cemerlang dari dokter dari Jepang ini.

Satu hal yang mengganggu Tenma adalah kebijakan prioritas penanganan pasien di rumah sakit tersebut. Jika ada pasien berstrata sosial biasa yang masuk duluan, maka belum tentu ia akan ditangani oleh tim yang ahli lebih dulu. Tim yang ahli akan diprioritaskan untuk menangani pasien berstrata sosial tinggi, kapan pun pasien berstrata sosial tinggi ini masuk. Jika ia didahului oleh pasien biasa, tetap saja ia yang dimenangkan untuk ditangani tim yang ahli.

Dengan kebijakan yang seperti ini, suatu saat Tenma dipaksa untuk menangani operasi bedah seorang penyanyi opera yang terkenal, padahal yang masuk duluan adalah seorang pria biasa imigran berkebangsaan Turki. Si penyanyi opera selamat, dan imigran Turki itupun meninggal. Keluarga Turki ini tidak bisa menerima kenyataan tersebut, namun mereka tidak bisa berbuat apa pun. Begitu juga Tenma. Setelah kejadian tersebut, Tenma mulai meragukan kebijakan rumah sakit tempat ia bekerja.

Suatu malam, seorang anak kecil dibawa ke Eissler Memorial Hospital dalam kondisi kritis. Kepalanya tertembak namun ia masih hidup dan memerlukan operasi bedah otak. Ia adalah seorang dari dua anak kembar politisi Jerman Timur yang menyeberang ke Jerman Barat, Liebert. Pada malam itu, keluarga Liebert dibantai, dan yang selamat hanya dua anak kembar tersebut; si laki-laki, Johan, dan si perempuan, Anna.

Tenma pun disiapkan untuk menangani operasi untuk menyelelamatkan nyawa Johan Liebert. Pada saat yang sama, walikota Roedecker perlu juga dioperasi karena stroke. Tenma yang sudah siap untuk mengoperasi Johan diperintahkan untuk menangani walikota Roedecker. Tenma menolaknya, ia memilih mengoperasi Johan Liebert yang telah siap lebih dulu. Johan Liebert selamat dan walikota Roedecker meninggal.

Dengan keputusannya tersebut, Tenma kehilangan keistimewaan dan kedekatannya dengan Heinemann serta putrinya. Ia dicopot dari kedudukannya sebagai kepala bagian bedah syaraf otak, Eva memutuskan pertunangan dengannya. Tak lama kemudian, Heinemann, kepala departemen bedah, Oppenheim, dan Dr. Boyer –mereka yang berseberangan dengan Tenma- ditemukan mati mendadak. Dengan meninggalnya mereka, otomatis Tenma lalu dipilih mejadi kepala departemen bedah. Tenma sempat disangka sebagai pembunuh mereka, namun dengan kurangnya bukti, ia dibebaskan.

Sembilan tahun kemudian, seorang penjahat ditemukan di jalan tertabrak mobil. Tenma menangani orang tersebut yang selalu menggumam tentang “Monster”. Hingga suatu senja, Tenma menemukan penjaga di depan kamar penjahat tersebut telah meninggal dan orang itupun telah menghilang. Tenma kemudian mengikuti jejak kriminal tersebut hingga ke sebuah bangunan yang terbengkalai. Di situ, ia bertemu dengan seseorang yang tengah menodongkan senjatanya ke arah kriminal tersebut. Tenma kemudian mengenali orang tersebut sebagai Johan, anak yang pernah diselamatkannya dulu. Tanpa ragu Johan kemudian menembak penjahat tersebut hingga tewas. Johan lalu menghilang di tengah kegelapan malam.  Tenma yang menyaksikan kejadian tersebut, tertegun melihatnya. Tenma kembali berurusan dengan polisi dan dinyatakan sebagai tersangka. Namun tetap tidak ada bukti yang membuktikan Tenma sebagai tersangka.

Dari sinilah cerita dimulai. Tenma lalu mengejar Johan. Anak yang diselamatkannya dulu ternyata berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Tenma curiga bahwa Johan jugalah pelaku pembunuhan berantai pasangan separuh baya. Perjalanan Tenma mengejar Johan mengungkap hal-hal yang tak diduga sebelumnya.

Oke, itu tadi ringkasan cerita dari volume pertama saja. Setelah membaca kelanjutannya, ternyata cerita ini tidak seperti cerita pembunuh serial seperti yang lain. Pengembangan ceritanya sungguh tak terduga. Naoki Urasawa, pengarangnya, memang cukup mumpuni dalam menjalin cerita dari perjalanan beberapa karakternya –bukan hanya Tenma- sehingga membentuk sebuah cerita yang utuh.

Secara keseluruhan, komik ini bisa dibilang komik misteri dan thriller alih-alih horror. Memang ada saat-saat menegangkan, namun bukan sebagaimana dalam genre horror. Walaupun demikian, gambar-gambar mayat-mayat tergeletak bersimbah darah, kepala memuncratkan darah ketika tertembak masih ada. Namun pengungkapannya tidak terlalu vulgar.

Dengan porsi kekerasan tersebut, komik ini tentu saja tetap masuk dalam kategori dewasa. Selain karena faktor kekerasannya, tema tersembunyi dalam komik ini juga begitu suram. Ada tema eksploitasi anak-anak, jual beli anak, penelantaran anak, pelacuran, keinginan bunuh diri, dan tema-tema dewasa lainnya. Dalam salah satu volume, ada seorang anak yang dipaksa untuk melihat hubungan badan seorang pria dengan seorang pelacur. Setelah itu, si anak berkeinginan untuk bunuh diri.

Selain karena bergenre misteri dan atau thriller, saya sendiri menyukai setting komik ini. Komik ini mengambil tempat di Jerman dan Cekoslowakia sesaat setelah Tembok Berlin runtuh. Beberapa volume mengisahkan kilas balik pada era perang dingin di sebagian wilayah Eropa Timur. Tema era perang dingin ini bersentuhan dengan polisi rahasia yang represif serta kekuasaan yang totaliter. Mungkin karena saat kecil dulu sempat merasakan akhir era perang dingin, jadinya saya suka dengan tema-tema seperti ini. Memang, seluruh manga ini mengambil tempat di Eropa. Bahkan, tokoh Jepangnya hanya Tenma sendiri. Jika Anda kebetulan mendapatkan sobekan komik ini, mungkin Anda mengira ini memang komik Eropa.

Jika tidak diamati, mungkin Anda mengira ini sobekan komik Eropa

Jika tidak diamati, mungkin Anda mengira ini sobekan komik Eropa

Jujur saja, saya baru sempat membaca kedelepanbelas serial ini sekali. Saya masih ingin mengulangnya lagi. Ada beberapa hal yang kurang jelas bagi saya. Ketika menamatkan volume kedelapanbelas, yang saya rasakan adalah sama seperti saat saya menonton episode terakhir serial Twin Peaks. Ada yang belum jelas –yang menurut saya sebenarnya tersembunyi.

Komik yang terbit di Indonesia dari 2004 sampai dengan 2008 ini sebenarnya terbit di Jepang dari 1994 sampai dengan 2001. Pada 2002, Urasawa menulis novel Another Monster, sebuah cerita yang mendetilkan kejadian-kejadian di manga ini dari sudut pandang seorang reporter investigasi. Sayang, novel ini tidak diterbitkan di Indonesia. Versi online yang tersedia hanya sampai separuhnya.  Konon, separuh novel berikutnya bisa diperoleh dengan meminta langsung ke penerjemah bahasa Inggrisnya melalui email. Yang ini belum sempat saya lakukan.

Another Monster -sayang tidak terbit di Indonesia

Another Monster -sayang tidak terbit di Indonesia

Manga ini juga sudah diadaptasi menjadi serial anime dengan 74 episode. Saya juga sudah mendapatkan sumber yang mempunyai anime ini. Sekali lagi, hanya belum sempat mengkopinya.

Tampaknya tidak salah jika ada yang mengatakan Monster ini merupakan salah satu masterpiece Naoki Urasawa. Monster memenangkan penghargaan Excellence Prize di Japan Media Arts Festival ke-1 pada 1997, Tezuka Osamu Cultural Prize ketiga pada 1999, dan Shogakukan Manga Award ke-46 pada 2000.

Judul                         : Monster
Genre                        : Thriller, Misteri, Horror
Penulis                     : Naoki Urasawa
Penerbit (Ind)       : mNc
Jumlah Volume    : 18
Tahun (Ind)           : 2004 – 2008
Status                       : tamat -dan tidak diterbitkan lagi

Advertisements