The Punisher (2005): Brutal dan Mengasyikkan!

Salah satu tokoh komik  yang ingin saya mainkan dalam game, selain Batman dan Hulk, adalah The Punisher. Mereka bertiga mempunyai kemiripan. Salah satunya adalah sebab mereka menjadi sosok-sosok tersebut adalah karena tragedi yang menimpa mereka, bukan karena anugerah yang mereka terima dengan suka cita. Bahkan dari ketiga tokoh di atas, The Punisher-lah yang paling ingin saya mainkan, karena dialah yang paling dekat dengan kenyataan.

Frank Castle aka The Punisher dalam trailer gamenya

Frank Castle aka The Punisher dalam trailer gamenya

Jadi, waktu saya tahu akan ada game The Punisher pada tahun 2005, saya senang sekali. Dengan setahun sebelumnya film The Punisher sudah keluar, saya menduga game ini punya hubungan dengan filmnya. Sedikit banyak memang demikian.  Paling tidak, versi The Punisher yang ada di game ini adalah versi tahun 2000-an, bukan dekade-dekade sebelumnya, saat The Punisher masih memakai sepatu boot putih. Wow, jadinya pasti keren lah.

Tokoh The Punisher sendiri sudah menjadi ketertarikan bagi saya sejak awal dekade 1990an. Saat itu, saya sering mampir di toko swalayan yang hanya berjarak jalan kaki 10 menit dari rumah saya. Toko itu memang bukan toko buku, tapi ia menyediakan sepojok ruang untuk jualan buku, majalah, dan komik. Nah, waktu itu juga munculnya penerbit baru, Misurind. Penerbit ini menerbitkan komik-komik yang aslinya dari Detective Comics dan Marvel. Salah satu yang diterbitkan oleh Misurind adalah The Punisher.

Waktu pertama kali saya baca, saya langsung tertarik. Tokoh komik tersebut lebih dekat dengan kenyataan daripada tokoh-tokoh komik lainnya –walaupun kadang-kadang muncul juga dengan Spiderman, Captain America. Frank Castle menjadi The Punisher karena keluarganya dibantai. Sederhana. Tidak ada sinar gamma, hasil eksperimen, mutasi; tidak ada kekuatan super, hanya senjata.

Saking terkesimanya dengan The Punisher, saat itu saya sempat menirunya untuk menciptakan karakter sendiri, The Falcon. Bedanya, tokoh saya ini bukan polisi, ia seorang tentara AS. Ia bertugas di pangkalan militer AS di Amerika Selatan. Ia menjadi The Falcon setelah keluarganya dibantai oleh kartel narkoba Kolombia. Setelah itu, ia desersi dari militer dan bersumpah untuk membasmi jaringan narkoba di Amerika Selatan. Jadi settingnya lebih di daerah Amerika Selatan dengan musuh-musuh dari kartel narkoba dan kelompok-kelompok paramiliter. Jika The Punisher mempunyai lambang tengkorak, The Falcon dikenal karena lambang kepala elang yang ada di kaosnya. Ada-ada saja. Jika dulu sempat jadi komik beneran, mungkin saya sudah terkenal sekarang. Hm, saya sempat merekonstruksi ingatan saya tentang The Falcon ini dalam coretan.

The Falcon -copycat saya dari The Punisher. Sayang, belum sempat jadi komik beneran. :)

The Falcon -copycat saya dari The Punisher. Sayang, belum sempat jadi komik beneran. 🙂

Kembali kepada game The Punisher. Begitu dulu ada majalah komputer yang menyertakan bonus demo The Punisher , langsung saya beli majalah itu. Berhari-hari saya mainkan demo dengan setting di kebun binatang itu. Game penuhnya baru saya dapat beberapa bulan setelah itu. Versi PS2 nya baru saya selesaikan beberapa hari yang lalu.

Game ini merupakan game third person shooter. Pemain memainkan Frank Castle atau The Punisher dalam membantai pelaku kejahatan.  Ceritanya sendiri konon merupakan campuran dari film The Punisher (2004) dengan seri komik Welcome Back, Frank. Total misi yang bisa dimainkan dari game ini ada 16 misi. Jika sebuah misi belum selesai dimainkan, maka misi selanjutnya masih terkunci.

Musuh-musuh The Punisher yang muncul di game ini adalah Bobby Gnucci dan Ma Gnucci, Kingpin, Bullseye, Bushwacker, dan The Russian. Tentu saja mereka menjadi boss dalam level-level tertentu. Selain musuh-musuh di atas, tampil sebentar juga (cameo) sebagian dari tokoh-tokoh Marvel, yaitu Black Widow, Nick Fury, Matt Murdock (aslinya si Daredevil), dan Iron Man.

Dilihat dari gaya permainannya, The Punisher merupakan kombinasi dari eksplorasi, tembak-menembak, stealth, dan perkelahian.  Mekanik standar dari genre third person shooter jelas ada di sini, seperti zoom, merunduk (crouch), dan lompat (yang agak aneh).

Quick Kill yang mengasyikkan: misalnya dengan memanggang kepala seperti ini

Quick Kill yang mengasyikkan: misalnya dengan memanggang kepala seperti ini

Ada beberapa mekanik yang unik di game ini, di antaranya adalah meraih lalu menahan musuh sebagai tameng hidup. Selain itu, mekanik lain yang menarik adalah quick kill atau membunuh secara cepat. Dengan mekanik ini, kita tidak perlu susah-susah membidik musuh dan menembaknya, namun kita perlu mendekati musuh dalam jarak tertentu yang tentu saja beresiko. Jadi, enaknya quick kill ini kita gunakan saat kita diam-diam mendekati musuh. Cara membunuh di quick kill bermacam-macam dan bisa jadi tontonan yang menarik; memukul musuh dengan senapan, menembak di kepala ala eksekusi, menancapkan pisau di kepala musuh, menancapkan pisau di mulut musuh, memasukkan granat di mulut musuh, membakar kepala musuh dengan pelontar api, dan beberapa cara membunuh sadis lainnya.  Selain quick kill, ada juga tempat bertanda tengkorak emas di mana kita bisa menggunakan special kill, misalnya dengan memasukkan musuh ke dalam peti mati beserta sebuah granat.

Hati-hati dalam menggunakan Special Interrogation

Hati-hati dalam menggunakan Special Interrogation

Selain itu, mekanik yang juga disukai adalah interogasi. Dalam beberapa kesempatan, terdapat musuh yang mempunyai tanda tengkorak putih di kepalanya. Inilah musuh yang mempunyai informasi berguna bagi Frank Castle. Maka, ia harus meraih musuh itu dan menginterogasinya. Cara standar menginterogasinya adalah dengan memukul, mencekik, mengancam dengan senjata, dan memukulkan wajah ke lantai. Tidak hanya itu saja. Di beberapa tempat, ada tanda tengkorak putih pada alat-alat tertentu. Inilah kesempatan untuk melakukan special interrogation. Pada interogasi spesial ini, cara yang dipakai adalah cara di luar interogasi standar, dan tergantung situasi yang ada. Ada special interrogation dengan dimasukkan ke mesin penggiling, dimasukkan ke kandang badak, dimasukkan ke alat kremasi, disetrum, dilindas forklift, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan adalah saat menginterogasi jangan sampai musuh yang diinterogasi mati sebelum kita mendapatkan informasi, karena itu akan mengurangi skor. Ada daerah jingga di mana pointer harus bertahan tiga detik di daerah itu, jika pointer mundur, maka interogasi harus diulang, dengan konsekuensi nyawa musuh akan cepat melayang. Pokoknya asyik deh.

Slaughter Mode: Pasti menang

Slaughter Mode: Pasti menang

Ada juga slaughter mode di mana jika kita mengaktifkannya, maka The Punisher akan membantai musuh-musuhnya dengan belati-belatinya yang tak habis-habis. Dan ajaibnya, saat di slaughter mode ini, tembakan musuh tidak berpengaruh apa-apa terhadap Frank Castle. Bahkan musuh dijamin pasti mati jika kena belati Frank Castle. Hanya saja, slaughter mode ini terbatas –ada indikatornya di bawah indikator kesehatan. Jika habis, maka Frank perlu melakukan interogasi untuk menambahnya.

Walaupun penuh dengan keunikan, game ini juga mempunyai beberapa kekurangan. Yang jelas, grafisnya tidak begitu bagus. Grafis Max Payne 2 yang rilis pada dua tahun sebelumnya menurut saya lebih bagus daripada game ini. Beberapa orang mengeluhkan gaya permainan yang berulang-ulang pada game ini. Cuma, bagi saya, mayoritas game sebenarnya juga mengulang-ulang gaya permainan, kan? Terlepas apakah itu third person shooter, first person shooter, atau brawler, atau lainnya. Kekurangan yang sempat saya temukan sendiri adalah AI musuh yang agak bodoh. Misalnya, ketika Frank berada di dekat sekelompok musuh, ada musuh yang mondar-mandir kebingungan dan kadang malah menembak ke arah lain. Selain itu, yang saya rasa kurang di game ini –dan game-game third person shooter semasanya- adalah mekanik berlindung di balik pelindung atau taking cover system. Memang, pada 2005, cover system belum populer karena baru pada tahun 2006, Gears of War-lah yang mempopulerkannya. Namun, sebenarnya, game third person shooter yang pertama kali mengimplementasikan cover system adalah Kill.Switch yang rilis pada 2003. Menurut saya, aneh jika third person shooter tidak mengimplementasikan cover system, karena pada kenyataannya, di film-film kita melihat seorang penembak kadang-kadang berlindung dengan punggung menempel dinding tidak hanya merunduk (crouch).

Replay value game ini lumayan juga. Setelah Anda menyelesaikan salah satu misi, Anda bisa mengulanginya melalui Challenge mode. Dalam challenge mode ini, skenario pada satu level akan sama pada story mode, namun ada tantangannya, misalnya menginterogasi musuh dengan enam cara berbeda dalam durasi waktu tertentu.

Level kekerasan The Punisher lumayan brutal dan sadis. Konon karena kesadisannya inilah, pada saat slaughter mode, layar menjadi hitam putih. Begitu juga saat interogasi tidak berhasil sehingga musuh mati dengan cara yang unik, maka layar pun menjadi hitam putih. Penghilangan warna pada adegan sadis ini konon karena ESRB –badan rating game di AS- mengancam pengembangnya akan merating game ini menjadi AO alias Adult Only, sebuah tingkat di atas M (Mature). Di versi PC, beberapa trainer bisa digunakan untuk menghilangkan efek hitam putih ini, sehingga adegan-adegan sadis tetap tampil berwarna. Bahkan di Inggris, badan rating game masih meminta adegan sadis di game ini untuk di zoom out. Di Australia, dua adegan sadis di game ini diminta untuk dihilangkan. Di Jerman, game ini masuk daftar media yang berbahaya bagi anak muda. Wow! Bagaimana dengan di Indonesia? Di negara yang tak peduli rating game ini, saya membeli kaset bajakan PS 2 game ini dengan label E (everyone –boleh dimainkan siapa saja) di kovernya.

Terlepas dari sedikit kekurangannya, game The Punisher merupakan game yang asyik dan unik. Anda yang menyukai tokoh ini sudah seharusnya memainkannya. Penggemar third person shooter sebaiknya juga memainkannya. Anda yang suka cara membunuh yang unik dan sadis bisa menikmati hal-hal demikian di game ini. Untuk mendapatkan game PC-nya mungkin sudah agak sulit, kecuali Anda mau mencarinya di situs berbagi.  Sepertinya di Kaskus masih ada yang jual versi PC-nya. Tahun ini, saya masih bisa menemukan kaset bajakan PS2 nya di kota saya.

Developernya juga punya selera humor yang bagus; :D

Developernya juga punya selera humor yang bagus; 😀

Dengan adegan setelah kredit roll yang menampilkan Kingpin marah terhadap ulah The Punisher, saya berharap akan ada sekuel game ini. Namun jarak saat ini dari game ini sudah 8 tahun. Saya berharap game The Punisher berikutnya tampil ala open world sebagaimana Batman Arkham City –dan bukan first person shooter sebagaimana The Punisher: No Mercy yang rilis eksklusif untuk PS 3 pada 2009. Untuk mengobati penantian saya, mungkin saya bisa memainkan Grand Theft Auto 4 atau Just Cause 2 dengan memodifikasi Nico Belic atau Rico Rodriguez menjadi The Punisher. Namun, tentu saja, ceritanya bukan tentang Frank Castle.

Judul: The Punisher
Genre: Third Person Shooter
Rilis: 2005
Platform: PC, PS2, XBox
Pengembang: Volition, Inc.
Penerbit: THQ (sekarang penerbit ini sudah mati, ini salah satu game terbaik mereka)

Advertisements