The Little Girl Who Lives Down The Lane (1976): Misteri Seorang Gadis Kecil

Begitu melihat The Silence of The Lambs pertama kali sekitar dua puluh tahun lalu, saya langsung tertarik untuk mengetahui film-film yang dibintangi oleh Jodie Foster. Karena waktu itu yang namanya internet belum seperti sekarang ini –sepertinya pertama kali saya menggunakan internet adalah untuk mengirim email dan itu pada tahun 1995- yang menjadi rujukan saya adalah majalah-majalah lawas yang ada di rumah saya. Hanya satu majalah yang memuat informasi yang saya inginkan. Saya lupa nama majalahnya. Ia terbit sekitaran akhir dekade 1970-an. Informasi yang saya cari pun hanya sedikit: artikel tentang Taxi Driver dengan gambar Jodie Foster. Itu saja.

Film horror dengan Jodie Foster muda? Sungguh menarik perhatian saya

Film horror dengan Jodie Foster muda? Sungguh menarik perhatian saya

Seiring berjalannya waktu, saya tetap mencari film-film yang dibintangi oleh Jodie Foster. Dengan mudahnya internet semenjak sekitar satu dasawarsa lebih lalu, saya pun akhirnya bisa mendaftar film-film yang dibintangi oleh Jodie Foster. Salah satu yang menarik perhatian adalah film ini, The Little Girl Who Lives Down The Lane.

Apa yang membuat saya tertarik dengan The Little  Girl Who Lives Down The Lane? Pertama, jelas ia dibintangi oleh Jodie Foster. Saya terkesima melihat Clarice Starling di The Silence of The Lambs. Akting Jodie Foster dalam menyajikan Starling begitu prima. Contohnya saja, kegugupannya ketika menghadapi Hannibal. Kedua, film ini adalah film horror. Melihat Jodie Foster dewasa di thriller The Silence of The Lambs sudah sangat menarik, bagaimana dengan Jodie Foster muda di film horror?

The Little Girl Who Lives Down The Lane menceritakan tentang Rynn Jacobs (Jodie Foster), seorang gadis berumur 13 tahun (atau 14?) yang tinggal di sebuah rumah di Long Island, New York. Rynn hidup dengan ayahnya, Lester Jacobs, seorang penyair. Mereka berasal dari Inggris. Ibu Rynn tidak bersama mereka. Tampaknya kedua orang tuanya bercerai, dan sang ibu berada di Inggris, tidak ikut ke Amerika bersama mereka.

Gadis kecil yang hidup sendirian dibayangi oleh seorang pedofilis

Gadis kecil yang hidup sendirian dibayangi oleh seorang pedofilis

Pada malam Halloween, Rynn merayakan ulang tahunnya yang ketiga belas sendirian di rumahnya. Saat itu, Frank Hallet (Martin Sheen), anak dari Cora Hallet, pemilik rumah yang disewa keluarga Jacobs, mampir. Frank tampaknya punya pikiran kotor tentang Rynn dan mencoba mendekati Rynn. Namun untunglah, anak-anak Frank datang untuk trick or treat, sehingga Frank pun meninggalkan Rynn.

Paginya, Corra Hallet mengunjungi Rynn. Ia mencoba menyelidiki keberadaan ayah Rynn. Corra juga bertanya apakah Hallet juga mengganggunya. Rynn bilang bahwa ayahnya ada di New York dan mengatakan apa adanya tentang Frank. Jawaban ketus Rynn dan sikap percaya dirinya tampak mengganggu Corra. Apalagi saat Corra menginginkan gelas antiknya yang ada di ruang bawah tanah. Rynn tetap saja menolak Cora masuk ke ruang bawah tanah walau ia diancam. Cora yang gusar akhirnya meninggalkan Rynn.

Di kota, Rynn digoda Frank lagi, namun ia terselamatkan oleh datangnya seorang opsir bernama Miglioriti. Miglioriti mengantar Rynn pulang. Mereka lalu berteman dengan baik. Miglioriti menanyakan keberadaan ayah Rynn. Rynn menjawab bahwa ayahnya sedang bekerja dan ia tidak bisa diganggu jika sedang bekerja.

Dari sini, pertanyaan mengemuka: sebenarnya di manakah ayah Rynn?

Tidak lama setelah itu, Cora mampir untuk mengambil gelas antiknya. Dia dan Rynn lalu adu mulut tentang ayah Rynn yang tidak ada di situ. Cora menampar Rynn dan mengambil kotak gelas antik yang telah diambil Rynn dari ruang bawah tanah. Oh, namun Rynn lupa karet penutup pocinya. Tanpa memedulikan peringatan Rynn, Cora membuka pintu ruang bawah tanah dan turun sendirian untuk mengambil karet penutup tersebut. Tiba-tiba Cora menjerit dan tak sengaja tangannya menyenggol penyangga pintu ruang bawah tanah. Pintu ruang bawah tanah tertutup dengan keras. Rynn terkejut. Ia diam sejenak. Dengan hati-hati ia mengangkat pintu ruang bawah tanah itu, dan ternyata Cora telah tewas. Tampaknya pintu ruang bawah tanah itu mengenai kepalanya dengan keras.

Setelah misteri tentang keberadaan ayah Rynn, tambah lagi satu misteri: ada apakah di ruang bawah tanah Rynn? Mayat ayahnyakah?

Cerita jadi berkembang ketika Rynn ingin menyingkirkan mobil Cora. Saat ia kesulitan menghidupkan mobil Cora, datanglah Mario, seorang anak muda berkaki pincang yang ahli dalam sulap. Mario ini juga merupakan keponakan Miglioriti, si polisi. Setelah dari pesta, Mario menepati janjinya untuk membawa mobil Cora ke kantornya. Sebentar kemudian, mereka pun sudah menjadi teman dekat.

Berturut-turut kemudian, opsir Miglioriti dan Frank mampir untuk menanyakan keberadaan Cora, ibu Frank. Mereka juga masih penasaran dengan keberadaan ayah Rynn. Mario yang sudah dekat dengan Rynn mencoba membantu Rynn dalam menjawab pertanyaan seputar ayahnya.

Bayang-bayang Frank Hallet

Bayang-bayang Frank Hallet

Sampai di sini, saya merasa ada yang salah dengan kategorisasi horror terhadap film ini. Menurut saya, film ini lebih cocok masuk ke kategori misteri, atau suspense, atau thriller. Tidak ada monster. Tidak ada adegan dikejar-kejar antagonis. Tidak ada adegan berdarah-darah. Yang ada hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik, misalnya, sebenarnya di manakah ayah Rynn? Juga ketegangan yang mengancam Rynn, seperti, akan bertindak apakah Frank terhadap Rynn? Akankah keberadaan Cora Hallet diketahui? Itu saja ketegangan dan misterinya.

Ternyata tidak hanya saya saja yang bingung dengan kategorisasi horror terhadap film garapan Nicolas Gessner ini. Beberapa pemirsa yang mengulasnya di IMDB juga merasakan hal yang serupa. Namun anehnya, film ini menyabet film terbaik untuk kategori film horror di Saturn Award pada tahun 1977.

Kover DVD seperti ini memang (agak) menipu. Sepertinya berdarah-darah film ini, padahal tidak. Apalagi tagline-nya yang provokatif: "Ask Her No Questions And Nobody Dies"

Kover DVD seperti ini memang (agak) menipu. Sepertinya berdarah-darah film ini, padahal tidak. Apalagi tagline-nya yang provokatif: “Ask Her No Questions And Nobody Dies”

Sekali lagi, film ini merupakan film yang mungkin dianggap lambat lajunya, seperti The Vanishing atau Stoker. Namun, sekali lagi, hal ini diperlukan untuk menguatkan karakterisasi tokoh-tokohnya. Dengan laju yang (dianggap) lambat dan penuh dengan dialog-dialog kita jadi tahu bahwa Rynn menyembunyikan sesuatu, percaya diri dengan kesendiriannya (benarkah ia memang sendiri?), dan tak mau diganggu oleh orang lain. Kita juga jadi tahu bahwa Frank adalah seorang pedofilis dari laju yang (dianggap) lambat ini. Kita juga menjadi tahu karakter dari tokoh-tokoh lainnya.

Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Laird Koenig dengan judul yang sama yang terbit pada tahun 1974. Skenario adaptasinya juga ditulis oleh Laird Koenig sendiri. Sekitar dua dekade dari rilis fil ini, Koenig membuat drama adaptasi dari film ini. Hebat ya? Dari novel, skenario, lalu jadi drama.

Rahasia apakah yang kau sembunyikan, gadis kecil?

Rahasia apakah yang kau sembunyikan, gadis kecil?

Walaupun harapan saya akan film horror yang menegangkan tidak begitu terpenuhi, namun The Little Girl Who Lives Down The Lane tetap menarik bagi saya. Akting Jodie Foster muda dalam memerankan Rynn Jacobs yang percaya diri, menyebalkan orang dewasa yang menyelidiki kehidupannya, cuek dan pede dengan kesendiriannya sungguh apik. Saya sendiri selalu tertarik dengan tema orang yang percaya diri dengan kesendiriannya, apalagi dengan tokohnya yang seorang gadis (kecil?) remaja. Sedikitnya karakter dan terbatasnya ruang juga merupakan hal yang selalu membuat saya tertarik untuk menonton sebuah film. Bayangkanlah Wait Until Dark-nya Audrey Hepburn yang sampai sekarang masih saya kagumi, atau jika film zaman sekarang, ya, Hard Candy. Misteri tentang ayah Rynn juga sudah cukup memenuhi aspek misteri film ini. Ketegangan yang timbul jika Frank datang juga sudah cukup membuat saya berdebar-debar akan apa yang selanjutnya terjadi. Oh ya, sebenarnya misteri yang paling menarik dari film ini adalah tentang diri Rynn Jacob sendiri. Sebenarnya, ada apakah selama ini dengan dirinya?

Anda yang ingin menonton film ini mungkin sudah agak susah mendapatkannya. Terus terang saya dulu menunggu stasiun televisi untuk memutarnya, namun tampaknya tak kunjung jua diputar. Bisa jadi sebenarnya sudah pernah ada stasiun televisi yang memutarnya cuma saya tidak tahu. Sepengalaman saya, film yang seperti ini (banyak dialog, minim aksi) biasanya diputar pada dini hari yang sepi penonton. DVD film ini rilis pada tahun 2005, dan penggemar fanatiknya sudah lama menunggunya. Saya sendiri menonton dari bajakannya -terus terang- sebuah hasil rip DVD. Sepertinya di youtube juga sudah ada yang menggunggahnya secara penuh.

Judul: The Little Girl Who Lives Down The Lane
Genre: Drama, Misteri, Thriller
Rilis: 1976
Sutradara: Nicolas Gessner
Penulis: Laird Koenig (novel)
Pemain: Jodie Foster, Martin Sheen, Alexis Smith
Durasi: 100 menit

Advertisements