Stoker (2013): Beautiful and Disturbing

Pertama kali melihat poster film ini, saya langsung tertarik dan ingin menontonnya. Bukan karena Mia Wasikowska yang cantik atau aktris gaek Nicole Kidman, melainkan karena judulnya. Ya, Stoker, judul ini amat menarik perhatian saya. Pikir saya, wah, ini pasti film tentang Abraham Stoker. Akhirnya saya bisa juga mengetahui biografi novelis yang terkenal dengan karyanya yang monumental itu, Dracula. Saya berharap bisa mengetahui misteri penyakit Bram Stoker yang menyerangnya waktu kecil sehingga ia hampir lumpuh namun tiba-tiba menjadi sembuh.

Stoker. Abraham Stoker? Ternyata tidak.

Stoker. Abraham Stoker? Ternyata tidak.

Ternyata saya salah. Film ini (hampir) tak ada hubungannya sama sekali dengan Abraham Stoker. Sebenarnya saya juga sudah agak ragu demi melihat Mia Wasikoswa, Nicole Kidman, dan Matthew Goode di posternya. Matthew Goode sebagai Abraham Stoker? Apalagi setelah mencermati sutradaranya, Chan-Woo Park. Orang Korea yang terkenal dengan trilogi Vengeance dan terutama dengan Oldboy-nya itu? Saya tambah yakin lagi bahwa film ini tak sesuai dengan harapan saya dengan melihat tagline-nya, “Don’t Disturb The Familiy”.

Baiklah, saya pupus harapan saya akan biografi Abraham Stoker. Fokus saya beralih ke Chan-Woo Park. Tampaknya selama ini, sutradara dari Korea ini belum pernah menyutradarai film berbahasa Inggris. Saya yang terkesan dengan Oldboy menaruh harapan terhadap besutan Park ini. Belakangan saya baru tahu ini memang film pertama Park yang berbahasa Inggris.

Begitu lihat ini langsung jatuh hati

Begitu lihat ini langsung jatuh hati

Begitu melihat pembukaan film ini, saya terkesan. Pengambilan gambar dari jauh saat Mia berjalan dari mobil ke arah pinggir jalan begitu indah. Gambar bunga, rumput yang bergoyang, semuanya membuat saya terkesima. Begitu juga ketika gambar Mia duduk di depan patung anak kecil di tengah hutan (?) untuk memeriksa kakinya. Indah. Demikian juga ketika Mia menumpahkan bola-bola tenis di lapangan tenis. Pengambilan gambar dari jarak jauhnya sungguh artistik. Wah, film ini worth watching, deh. Sinematografinya apik.

Saat melihat bahwa yang menulis cerita ini adalah Wenworth Miller, saya agak kaget. Wenworth Miller yang jadi Chris Redfield di Resident Evil: Afterlife itu? Mmmm, saya lebih mengenalnya waktu menjadi Michael Schofield di Prison Break. Eh, bagaimana cerita ini nanti?

Saya tidak akan banyak-banyak membocorkan cerita ini, karena film ini benar-benar berharga untuk dinikmati menit demi menitnya, baik secara cerita maupun sinematografi. Oke, inilah sedikit sinopsisnya, saya berusaha berhenti di awal misteri.

Pada saat ulang tahunnya  yang ke-18, India Stoker (Mia Wasikowska) -ya, namanya memang seperti itu- ditinggal mati ayah yang ia cintai, Richard, dalam sebuah kecelakaan mobil yang tragis. Ayahnya meninggalkannya dengan ibunya yang tampaknya agak terganggu jiwanya, Evelyn (Nicole Kidman). Pada saat pemakaman, India melihat seorang lelaki mengamati mereka dari jauh. Siapakah dia?

Sorenya, India dan Evelyn diperkenalkan dengan saudara Richard yang karismatik dan menawan, Charlie (Matthew Goode), yang menghabiskan waktunya keliling dunia. Ehm, dikabarkan ia malah baru pulang dari mencari emas di Indonesia. Hebat nih, Indonesia disebut lagi. Charlie kemudian menyatakan bahwa ia akan tinggal beberapa waktu untuk menghibur India dan Evelyn. Oh, ternyata Charlie inilah yang mengamati pemakaman Richard dari jauh.

Segera setelah Charlie menetap, India melihat pamannya berdebat dengan Mrs. McGarrick, kepala pembantu rumah itu. Mrs McGarrick lalu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi. Charlie dan Evelyn menjadi semakin dekat saat India terus menolak usaha Charlie mendekatinya. Kemudian, datanglah Gwendolyn, nenek India dan bibi Evelyn. Saat makan malam, Gwendolyn tampak terkejut dengan klaim Charlie akan perjalannya keliling dunia. Gwendolyn lalu bilang ke Evelyn bahwa ia perlu berbicara berdua tentang Charlie.

Oke saya stop di sini saja. Sampai di sini, benang merah cerita sudah terlihat. Siapakah Charlie ini sebenarnya? Ada apakah dengan Charlie ini? Misteri dari film ini berkutat pada diri paman Charlie. Namun, kelanjutan ceritanya sungguh mengejutkan dan tidak terduga.

Apa yang akan terjadi setelah ini?

Apa yang akan terjadi setelah ini?

Salah satu yang tidak terduga dan mencekam serta ‘disturbing’ adalah hubungan India dan Charlie. Awalnya, India curiga terhadap kehadiran Charlie. Ia juga menolak usaha Charlie untuk mendekatinya. Penggambaran hal ini sangat bagus. Saya terkesan sewaktu India turun dari bis berjalan kaki dengan diikuti oleh Charlie yang mengendarai mobil. Namun akhirnya, India menjadi tertarik dengan Charlie. Bahkan ia menjadi dekat dengannya. Penggambaran kedekatan India dan Charlie saat main piano bersama di satu kursi mencekam, menegangkan, sekaligus membingungkan saya. Masihkah India menolak Charlie? Apakah mereka saling tertarik secara seksual? Jangan-jangan Charlie akan segera berbuat jahat terhadap India. Apakah mereka akan bercinta? Atau Charlie akan memperkosa India? Ini hanya salah satu twist yang terpaksa saya ungkapkan.

Transisi dengan bantuan komputer grafis yang apik. India berjalan meniti lurus, lingkungannya yang berubah

Transisi dengan bantuan komputer grafis yang apik. India berjalan meniti lurus, lingkungannya yang berubah

Film ini indah, artistik, mencekam, dan kontroversial. Dari awal film, pengambilan gambarnya begitu indah dan artistik. Kadang transisi antar fragmen pengambilan gambar diberi sentuhan komputer grafis yang membuatnya jadi lebih indah. Salah satu transisi indah yang begitu saya nikmati adalah saat India turun dari bis lalu berjalan. Kemudian, perlahan-lahan gambar di sekilingnya berubah sehingga tampaklah Charlie sedang mengikutinya dengan mobil dari belakang. Posisi India tetap dalam berjalannya, lingkungan sekelilingnya lah yang berubah.

Penuh dengan simbol

Penuh dengan simbol….

Selain indah, gambar-gambar yang ditampilkan (hampir semuanya) mengandung simbol-simbol. Saya tak begitu mampu untuk menerka arti simbol-simbol itu, namun saya yakin mereka pastilah mengandung makna. Patung anak kecil di hutan, bola tenis, hadiah sepatu, sepatu yang gradual perubahan ukurannya, laba-laba, piano; semuanya saya duga mengandung makna, walaupun tidak semuanya saya tahu maknanya. Simbol-simbol tersebut membangun dugaan bahwa film ini mempunyai lapisan-lapisan makna dan multi interpretasi sebagaimana Mullholland Drive-nya David Lynch.

...yang belum saya pahami

…yang belum saya pahami

Chan-Woo Park terkenal dengan filmnya yang mengusung kekerasan dan berdarah-darah. Namun tidaklah dengan Stoker ini. Anda yang berharap menemukan kekerasan dan darah-darah tidak begitu akan menemukannya di film ini. Film ini lebih ke genre misteri dan suspense. Jadi, wajar jika  laju film ini dianggap lambat –walaupun sudah pas menurut saya. Kelambatan laju dalam Stoker memang diperlukan agar kita lebih memahami karakter tokoh-tokohnya. Ketercekaman film ini dibangun lewat rasa khawatir akan apa yang terjadi terhadap India dan Evelyn, bukan melalui tokoh jahat yang mengejar-ejar tokoh utama dengan pisau berdarah di tangannya. Jangan harap ketegangan macam terakhir muncul di Stoker ini.

Shadow of A Doubt-nya Hitchcock: keponakan Charlie dan Paman Charlie bertemu dengan gembira

Shadow of A Doubt-nya Hitchcock: keponakan Charlie dan Paman Charlie bertemu dengan gembira

Ada yang mengatakan bahwa film ini terpengaruh oleh Alfred Hitchcock, terutama oleh filmnya, Shadow of  A Doubt. Ini memang benar. Wenworth Miller sendiri mengakuinya. “Titik awalnya memang Shadow of A Doubt-nya Hitchcock. Jadi, dari situlah kita mulai, lalu kita giring ini ke arah yang benar-benar berbeda.” kata Miller. Ya, kesamaannya menurut saya hanya terletak pada kedatangan seorang paman yang sudah lama tidak ada di dekat sebuah keluarga. Kesan awal dari sang keponakan terhadap sang paman antara dua film ini pun berbeda. Dalam Shadow of a Doubt, keponakan Charlie sangat menerima dan senang dengan datangnya paman Charlie. Oh, ya dalam film Hitchcock ini, sang keponakan dan sang paman mempunyai nama panggilan yang sama, Charlie. Berbeda dengan Stoker, di mana India sudah curiga dengan paman Charlie. Dari sini saja sudah berbeda, apalagi kelanjutannya. Hm, tampaknya penggunaan nama paman Charlie ini pun merupakan simbol rujukan ke karya Hitchcock ya?

Kontras dengan Shadow of  A Doubt: India yang curiga dengan Paman Charlie

Kontras dengan Shadow of A Doubt: India yang curiga dengan Paman Charlie

Setelah saya pikir-pikir dan renungkan, ternyata nama Stoker pun merupakan simbol. Stoker hampir selalu dihubungkan dengan Dracula. Dracula merupakan tokoh vampir. Mitologi vampir selalu disertai dengan simbolisme predator seksual yang menggoda dan mengancam korbannya. Keterancaman secara seksual bagaimana pun juga terkandung dalam flim ini. Miller menyatakan sehubungan dengan nama Stoker ini, “Ini bukan tentang vampir. Cerita ini tak pernah ada hubungannya dengan vampir, tapi ini memang cerita horror.”

Film ini termasuk film yang akan mempunyai dua kubu, mereka yang sangat menyukainya, dan mereka yang sangat membencinya  sebagaimana yang terjadi pada The Vanishing asli (Spoorloos) ataupun The Girl Who Lives Down The Lane. Saya termasuk yang pertama. Bahkan saya rasa, film ini akan mempunyai penggemar yang fanatik sebagaimana dua film di atas, dan juga film-film seperti Shattered, Red Rock West, dan Wait Until Dark.

Setelah melihat film ini dua kali, saya merasa mengalami sebuah pengalaman sinematis yang aneh. Rasanya seperti melihat mimpi; indah namun juga mencekam dan membingungkan. Lapisan-lapisan maknanya perlu saya kontemplasi lebih dalam. Jika disejajarkan dengan game, rasanya hampir seperti mengalami bermain Silent Hill 2. Oh ya, salah satu elemen kemiripannya dengan game ini adalah simbolisme seksualnya. Hm, sepertinya saya akan menonton Stoker ini berkali-kali.

Judul: Stoker
Genre: Misteri, thriller
Rilis: 2013
Sutradara: Chan-Wook Park
Penulis: Wentworth Miller
Pemain: Mia Wasikowska, Nicole Kidman, Matthew Goode
Durasi: 99 menit

Advertisements