The Vanishing aka Spoorloos (1988): Chilling and Disturbing

Bayangkan ini. Anda dan kekasih Anda tiba di suatu tempat yang asing. Kekasih Anda meninggalkan Anda sejenak, sedangkan Anda menunggunya. Anda menunggu. Anda terus menunggu. Dan kekasih Anda tidak pernah kembali.

Gadis ini hilang 3 tahun yang lalu

Gadis ini hilang 3 tahun yang lalu

Ini tema yang ada di The Vanishing (1988) atau Spoorloos: orang hilang. Sebelumnya saya perlu mengingatkan, bahwa ini bukan The Vanishing tahun 1993 yang merupakan remake dari film ini dari sutradara yang sama, George Sluizer. Sayang, saya melihat versi remakenya dulu yang dibintangi oleh Jeff Bridges dan Kiefer Sutherland. Versi remake-nya sepertinya dibuat untuk konsumen mainstream Hollywood yang yeah begitulah. Versi remake yang terlalu di-Amerikanisasi tersebut sungguh menyebalkan. Syukurlah, versi remake-nya mendapat kritik negatif.  Jadi, jika Anda ingin memilih di antar dua film ini, sungguh, saya menyarankan untuk melihat versi aslinya.

Oke, kita kembali ke versi originalnya. Ringkasan ceritanya sebagai berikut. Oh ya, tentu ada bocoran sedikit tentang ceritanya. Bocorannya saya usahakan sedikit sekali karena jalan cerita film ini sangat berharga untuk diikuti detik demi detik.

Rex dan Saskia adalah sepasang kekasih yang sedang berlibur. Mereka berasal dari Belanda dan sedang berlibur di Perancis. Malang, dalam perjalanan, bensin mereka habis di dalam sebuah terowongan. Ini memicu pertengkaran kecil di antara mereka. Akhirnya, Rex meninggalkan Saskia untuk mendapatkan bensin. Sekembalinya dari mencari bensin, Rex tidak menemukan Saskia di mobil. Rex mencarinya dan akhirnya menemukan kekasihnya di luar terowongan.

vanpromise

Mereka lalu mampir di sebuah tempat persinggahan untuk mengisi bensin di jerigen dan berbelanja. Saat istirahat ini, Rex berjanji untuk tidak meninggalkan Saskia lagi. Saskia masuk ke swalayan untuk membeli minuman sementara Rex memfoto.

Rex menunggu Saskia keluar. Namun Saskia pun tak keluar-keluar. Rex mulai mencari; di swalayan, di luar, di pom bensin, di toilet wanita. Saskia tak juga ketemu. Rex gusar. Kombinasi kegusaran, kemarahan, frustasi, dan penyesalan Rex demi mengetahui Saskia menghilang sungguh menyiksa untuk ditonton. Rex membanting pintu depan mobilnya hingga kaca jendela pintu itu pecah berantakan. Sungguh adegan yang pas untuk momen yang sangat menyedihkan ini.

Janjinya untuk tidak meninggalkan Saskia membuat Rex mencari Saskia selama tiga tahun ke depan. Dengan kemungkinan bahwa Saskia mungkin saja sudah mati, Rex terobsesi: ia ingin tahu apa yang terjadi pada Saskia. Selama tiga tahun tersebut, Rex telah menerima kartu pos selama lima kali. Kartu pos tersebut memintanya untuk bertemu dengan penculik Saskia di sebuah cafe di Nimes.

Rex yang gusar, sampai pecah kaca jendelanya saat ia membanting pintu mobil

Rex yang gusar, sampai pecah kaca jendelanya saat ia membanting pintu mobil

Saya stop di sini saja ringkasan sinopsisnya. Yang perlu Anda siap adalah identitas penculik sudah diungkapkan ke penonton sejak awal film. Penculiknya adalah seorang guru kimia yang (kelihatan) normal dengan istri dan dua orang anak gadis. Mengapa ia menculik Saskia? Ini yang membuat film ini semakin menarik. Setelah bertemu dengan Rex, penculik ini memulai permainan yang membuat Rex semakin gusar.

Film ini minim kekerasan dan tanpa darah. Kesuksesan suspense thriller ini terletak pada kemampuannya membuat penonton tertekan. Kita dapat memahami keputusasaan, kebingungan, dan obsesi yang Rex rasakan karena kehilangannya. Sebaliknya, kita dapat melihat antagonis yang dingin dan sakit yang memang hidup di tengah-tengah kita. Sungguh menarik kita bisa melihat dua sisi pandang dalam film ini: sisi pandang sang korban dan sang penjahat.

Sebenarnya, film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel yang berjudul The Golden Egg. Novel ini merupakan karya Tim Krabbe dan diterbitkan pada tahun 1984. Film yang dibuat Geoge Sluizer pada 1988 tidak berubah banyak dari novelnya. Tentu saja, versi remakenya yang sangat berbeda. Di negara-negara berbahasa Inggris, novel ini lalu diterjemahkan dengan judul The Vanishing.

Bagi sebagian orang, laju film ini dipandang lambat. Namun memang demikianlah yang diperlukan. Film ini membangun kecemasan kita melalui emosi-emosi yang ditampilkan oleh karakter-karakternya. Laju film ini dalam membangun rasa mencekam mirip dengan yang dilakukan oleh Alfred Hitchcock. Katakanlah, seperti Stranger on the Train atau Spellbound atau Shadow of  A Doubt.

Memang, film ini bukan tipe film kebanyakan. Ini adalah tipe film yang sebagian orang sangat menyukainya dan sebagian orang sangat membencinya. Jika Anda mengharapkan thriller yang berdarah-darah, protagonis yang dikejar psikopat membawa pisau, kejutan yang membuat Anda melompat dari tempat duduk, maka film ini bukan seperti itu. Jika Anda mengharapkan rasa cemas, tertekan, khawatir, tercekam, bahkan setelah selesai  menonton film dan kembali ke kehidupan nyata, silakan Anda coba film ini.

Judul: Spoorloos atau The Vanishing
Rilis: 1988
Sutradara: George Sluizer
Cerita: Tim Krabbe (novel), George Sluizer dan Tim Krabbe (adaptasi)
Pemain: Gene Bervoets, Johanna ter Steege, Bernard-Pierre Donnadieu

Advertisements