Tomb Raider (2013) Games Review: Pertama Kali Lara Membunuh

Lara Croft yang Berdarah-darah

Lara Croft yang Berdarah-darah

Terus terang saya tidak mengikuti serial games Tomb Raider dengan baik. Saya hanya memainkannya sejak Legends, Anniversary, lalu Underworld. Dan kemudian, datanglah reboot-nya: Tomb Raider, yang rilis Maret 2013 lalu.

Waktu pertama kali memainkan Legends, kesan pertama saya akan Lara Croft adalah cewek ini benar-benar bad-ass. Seenaknya saja menembak orang dengan gayanya yang bandel. Gaya bicaranya juga terkesan percaya diri dan agak sombong. Menurut saya, maklum, anak bangsawan yang kaya raya.

Ide reboot sangat menarik bagi saya. Ini mengungkap bagaimanakah kelahiran seorang Lara Croft sehingga ia menjadi pengobok-obok makam. Semenarik waktu Batman Begins dibuat oleh Nolan. Tampaknya rumus seperti ini memang sudah jadi pakem cerita film, games, atau buku saat ini: pada saat serial pertama, protagonisnya sudah jagoan dulu; begitu serial pertama ini sukses, baru dimunculkanlah prequel tentang asal mulanya.

Yang menarik bagi saya adalah pada reboot ini dimunculkanlah kejadian yang memicu keberanian (dan kebengisan) Lara Croft untuk membunuh. Ceritanya dimulai dengan ekspedisi Lara dan teman-temannya di kapal Endurance untuk mencari sisa-sisa peninggalan kerajaan Yamatai di daerah sekitar kepulauan Jepang. Sebenarnya ekspedisi ini bermula gara-gara acara televisi seorang arkeolog, Dr. Whitman, yang terancam dicancel oleh saluran yang menyiarkannya.  Demi menyelamatkan acaranya, Whitman pun memulai ekspedisi mencari Yamatai ini. Lara pun ikut. Singkat cerita, kapal Endurance yang mereka naiki karam. Lara dan teman-temannya ditangkap oleh penghuni pulau yang diduga dulu merupakan pusat Yamatai.

Kembali ke momen saat Lara harus membunuh. Kejadiannya adalah saat ia dan teman-temannya tertangkap. Waktu itu, Lara berusaha melarikan diri. Ia menyelinap dari satu celah ke celah lainnya. Malang, seorang penangkap mengetahuinya. Ia pun ditangkap dan (tampaknya) akan diperkosa.

Hm, masalah akan diperkosa atau diserang secara seksual ini ternyata menimbulkan pro kontra. Ada pihak-pihak yang meminta juru bicara developer/publisher game ini untuk mencabut kata-kata “sexually assault” ini. Namun, jika Anda memainkannya, dari gerak-gerik si penangkap, Anda bisa menangkap bahasa tubuh si penangkap bahwa ia akan menyerang Lara secara seksual.

Di sinilah Lara –dan Anda- harus mengambil keputusan. Ia harus bertahan dan membunuh agar dirinya selamat. Dan Anda harus menekan urutan tombol yang tepat pada saat yang tepat, agar Lara tetap hidup…eh, agar Lara dapat membunuh penyerangnya.

Sesaat setelah ia membunuh, kita dapat menangkap kesan bahwa Lara merasa bersalah -atau paling tidak ragu- atas apa yang ia perbuat. Yakinlah Lara, engkau melakukan hal yang benar. Jika anak gadis saya terjebak pada situasi yang serupa, saya juga tidak ragu-ragu menyuruhnya agar melakukan hal yang serupa. Minimal, lumpuhkanlah penyerangmu agar ia tidak bisa bergerak. Patahkan kakinya, atau butakan matanya, tembak kemaluannya. Ah, sudahlah.

Kembali ke Lara. Lima menit berikutnya, sungguh tak masuk akal. Dengan sangat cepatnya, dan dengan entengnya, Lara menjadi pembantai para penangkapnya. Transformasi Lara menjadi mesin pembunuh bisa saya pahami. Namun waktunya terlalu cepat. Akan lebih baik jika games ini tidak dibuat sebagai fully action packaged. Menurut saya, mending masalah-masalah berikutnya menghadapkan Lara kepada pilihan untuk menyerang atau bergerak secara sembunyi-sembunyi (stealth). Juga, akan lebih baik jika  musuh yang harus ia hadapi secara dilematis (dilewati diam-diam atau dilumpuhkan) hadir dalam jumlah sedikit. Namun, yang terjadi berikutnya adalah hamburan-hamburan musuh yang siap ia bantai. Sepertinya, tidak ada pilihan untuk melewati musuh secara sembunyi. Bandingkanlah dengan Batman Arkham City, di mana pertarungan dengan musuh bisa kita lewati.

Tomb Raider (2013) merupakan game Tomb Raider pertama yang mendapatkan rating M, setelah sebelumnya T. Darah muncrat dari tubuh lawan adalah hal yang biasa. Mayat lawan akan terlihat jika kita tetap di lokasi, beda dengan seri sebelumnya di mana mayat lawan tiba-tiba bisa menghilang sendiri. Jika Lara terkena tembakan pun darahnya memancar ke mana-mana. Beberapa adegan menampilkan kematian Lara dengan sangat sadis, misalnya dimakan serigala, tertusuk lehernya, tertembak kepalanya sampai terlihat lubang tembakannya. Beberapa lokasi menampilkan tumpukan mayat-mayat, dan potongan mayat, dengan genangan darah. Bahkan, Lara pun harus mencebur ke dalam genangan darah! Ada juga adegan para kanibal yang memakan seorang manusia yang malang.

Menurut saya game ini tidak terlalu ‘gelap’. Ia tetap merupakan game aksi petualangan, bukan horror. Ketertarikan saya terutama adalah pada saat-saat Lara harus membunuh untuk pertama kali. Ini merupakan pilihan yang kritis akan kemanusiaan Anda. Ini mengharuskan Lara melewati batas, masuk ke daerah sisi gelapnya sebagai binatang yang berbudaya. Walaupun demikian, kebrutalan Lara selanjutnya tetap tidak membuat game ini menjadi game horror yang suram dan gelap.

Secara keseluruhan, ini adalah game petualangan yang bagus. Ketegangannya cukup intens. Mekanis gameplay-nya juga mudah. Ada fitur upgrade senjata. Ada tugas mengumpulkan barang-barang. Tetap ada teka-teki yang bisa saya katakan sangat mudah dibandingkan seri-seri Tomb Raider sebelumnya. Plotnya biasa saja. Saya dapat menduga siapa kawan dan siapa lawan; sangat mudah.

Yang memprihatinkan saya adalah replay value-nya yang rendah. Pemandangan indah Pulau Yamatai memang menyenangkan untuk dinikmati. Namun mengulang game hanya untuk menikmati keindahan pulau maya menurut saya adalah sesuatu yang buang-buang waktu. Tidak ada fitur challenge mode ala Batman Arkham City/Asylum, tidak ada mercenary mode ala Resident Evil, tidak ada New York Minute ala Max Payne. Anda hanya akan menemui masih ada beberapa musuh jika Anda kembali ke lokasi-lokasi tertentu dengan slot save yang sama.

Jika Anda penggemar Tomb Raider, cobalah reboot ini, walaupun ia tidak begitu mengikuti formula seri-seri Tomb Raider sebelumnya. Yeah, dunia berubah, kawan. Lihatlah Resident Evil. Jika Anda senang petualangan ala Indiana Jones, Anda juga bisa mencobanya.

Advertisements