Drive (2011) Movie Review: Dingin dan Suram

Terus terang saya agak melewatkan film ini. Maklum, pada saat film ini dirilis, saya baru ambil semester pertama kuliah magister saya. Dengan kesibukan kerja yang sudah padat ditambah lagi dengan tugas-tugas awal kuliah, saya –yang sudah lama tidak kuliah- memprioritaskan pekerjaan dan kuliah, alih-alih hiburan.

Font yang sederhana berwarna pink: retro banget.

Font yang sederhana berwarna pink: retro banget.

Saya menemukan film ini saat saya mencari-cari informasi tentang karakter-karakter anti hero. Beberapa forum menyebutkan bahwa salah satu anti hero terbaik adalah karakter yang diperankan oleh Ryan Gosling di Drive ini. Bahkan ada anggota sebuah forum yang (tampaknya) fanatic dengan karakter ini; gambar signature-nya adalah penampakan belakang karakter ini yang sedang mengenakan jaket parasit putih bergambar kalajengkingnya. Penasaran terhadap acting Ryan Gosling di film ini, akhirnya saya pun mencari film ini, dan mendapatkannya.

Film ini bercerita tentang seorang pengemudi, atau jika di cast-nya dia hanya disebut sebagai driver. Driver? Itu saja namanya? Ya! Saya pun sempat mengulang-ulang film ini hanya untuk mengetahui nama karakter ini. Anehnya saya tidak menemukan nama karakter ini. Setelah saya cek di IMDB, ternyata karakter ini hanya disebut sebagai Driver, pengemudi. Konon, begitu juga ia disebut dalam novel yang menjadi sumber film ini. Karakter tanpa nama ini mengingatkan saya akan seorang karakter (anti hero juga) tanpa nama yang diperankan dengan baik oleh Clint Eastwood dalam trilogi dollars-nya Sergio Leone.

Driver adalah seorang pria yang menyendiri, yang bekerja sebagai mekanik mobil, stuntman di film aksi, dan seorang transporter untuk aksi kejahatan. Ia menyendiri, bukan kesepian; itu yang saya tangkap. Seorang yang kesepian biasanya menangisi kesepiannya dan berusaha menemukan teman atau sekumpulan teman. Tapi tampaknya tidak bagi si pengemudi ini. Ia memilih sendiri. Bersosialisasi dengan orang lain secara seperlunya saja. Bahkan jika tidak perlu berjabat tangan, ia pun tidak mau berjabat tangan. Kalau pun ia mau berteman, itu bukanlah karena tuntutan norma sosial yang menghendaki orang untuk bersosialisasi. Ia mau berteman, karena ia ingin berteman, itu saja.

Saat ia memilih untuk berteman lebih dekat, saat itulah masalah menghampirinya. Saat ia berkenalan dengan Irene, lalu untuk kemudian membantu suami Irene yang baru saja keluar penjara, di sinilah cerita bermula. Hm, saya tidak akan membocorkan ceritanya.

Karakter driver memang menarik bagi saya. Penampakannya yang asosial dan dingin, sedikit bicara seakan mencekat tenggorokan saya. Barangkali ia adalah orang yang memendam kesedihan. Begitu ada hal yang memicu pelampiasan kesedihan dan kekecewaannya selama ini, ia pun melewati batas.

Darah di jaket putihnya tidak ia bersihkan, bahkan sewaktu ia menemui Bernie di sebuah restoran Cina

Darah di jaket putihnya tidak ia bersihkan, bahkan sewaktu ia menemui Bernie di sebuah restoran Cina

Tampaknya ia tidak peduli dengan kekerasan yang ia lakukan, asal ia anggap hal itu benar. Lihatlah, bagaimana driver tidak menghapus noda darah di jaket putihnya. Hei, jaket putih  pada karakter driver sepertinya memang disengaja. Saya tidak tahu apakah karakter driver ini pada buku aslinya juga memakai jaket putih. Saya menduga jaket putih ini memang sengaja dirancang oleh penulisnya (minimal penulis scenario filmnya) agar ketika driver tidak menghapus noda darah korbannya, hal itu lebih mencerminkan kedinginan karakter ini.

Film ini minim kata. Pembangunan suasana dicapai lewat pengambilan gambar yang tepat, tata pencahayaan yang apik, dan musik latar belakang. Cobalah perhatikan ketika Driver membawa Irene dan Benicio ke pinggir sungai pada sore hari yang cerah. Hanya musik dan sinematografi yang bermain. Tidak perlu banyak dialog. Seringkali makna dan pesan film ini disampaikan dengan simbol-simbol seperti tatapan mata, bahasa tubuh, dan saya yakin juga dengan jaket bordiran kalajengking dan darah yang tidak dihapus. Lihatlah tatapan mata Irene ke Driver, kita bisa menangkap ketertarikan Irene kepada Driver, namun juga ada kegamangan karena keterikatannya pada Standard, suaminya. Juga sorot mata Driver pada berbagai adegan, seperti saat di hadapan Benicio, atau seperti saat menghajar para gangster; semuanya mempunyai makna yang berbeda-beda tergantung situasinya. Jangan berharap pula film ini penuh dengan aksi a la Jason Statham atau Dwayne Johnson. Film ini bukan film aksi. Ia lebih ke drama.

Sebagai seorang penikmat film era 60-an, 70-an, 80-an, dan 90-an, film ini memuaskan saya akan kerinduan film pada masa-masa itu. Title yang muncul sederhana dengan warna pink, dan lagu yang dikemas a la retro mengangkur saya ke budaya pop masa itu. Ini mengingatkan saya akan David Lynch yang suka memakai lagu-lagu semacam itu.

Nicolas Winding Refn sukses menyutradarai film ini. Saya belum pernah melihat karyanya yang lain. Kemistisan film ini membuat saya ingin segera menonton besutannya yang lain seperti Valhalla Rising dan Bronson. Hm, Bronson? Kayaknya ini juga mengangkur ke masa lalu saya akan Charles Bronson.

Film ini memang bukan untuk semua orang. Jika Anda ingin menonton jagoan berotot besar menghajar musuh-musuhnya, mobil yang kejar-kejaran, maka film ini bukan untuk Anda. Jika Anda menginginkan cerita yang terbangun lewat dialog yang rumit, maka film ini juga bukan untuk Anda. Jika Anda suka film-film Alfred Hithcock, mungkin film ini cocok buat Anda.

Judul: Drive
Tahun Rilis: 2011
Sutradara: Nicolas Winding Refn
Penulis: Hossein Amini
Adaptasi: novel dari James Sallis
Pemain: Ryan Gosling, Carey Mulligan, Ron Perlman, Albert Brooks

Advertisements